Artikel Terbaru

Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi

Prosesi pembasuhan kaki dalam ibadat tobat inkulturasi.
[HIDUP/Antonius E Sugiyanto]
Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAneka unsur budaya dapat membantu memahami makna Sakramen Rekonsiliasi. Sementara ancaman sekularisasi di zaman modern menjadi tantangan terbesar.

Sekitar 100 imam, suster, dan umat beriman khusyuk mengikuti ibadat tobat inkulturasi. Perayaan iman ini digelar di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Kompleks Puja Mandala, Nusa Dua, Bali, Jumat, 14/10. Di tangga altar gereja berjajar 17 baskom berisi air dan bunga mawar. Tak seperti ibadat tobat umumnya, pada puncak perayaan, setiap orang melakukan “sungkem” (sembah, sujud-Red) serta membasuh dan mencium kaki satu sama lain.

Ibadat tobat inkulturasi ini merupakan bagian Asian Liturgy Forum (ALF) ke-20 yang dihelat di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Senin-Jumat, 10-14/10. Delegasi dari delapan negara (Indonesia, Filipina, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Taiwan, Thailand, Timor Leste) hadir dalam pertemuan para penggiat liturgi Asia ini. Ajang ini mengusung tema Sakramen Rekonsiliasi.

Dalam sharing, delegasi Indonesia menunjukkan aneka ungkapan dalam beberapa budaya lokal yang dapat membantu umat untuk mengungkapkan sikap tobat. Sungkem yang menjadi bagian dari ibadat tobat inkulturasi, diambil dari tradisi budaya Jawa. “Sungkem yang berasal dari tradisi keraton, di dalamnya terdapat makna permohonan maaf atau pengampunan. Makna inilah yang kita ambil dalam ibadat tobat. Dengan prosesi sungkem ini diharapkan mampu membantu kita untuk semakin memahami makna pengampunan,” kata Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (Komlit KAJ), Romo Hieronimus Sridanto Aribowo Nataantaka.

Ada beberapa kebiasaan dan ungkapan lokal lain dalam beragam budaya Indonesia yang dapat dijadikan sarana untuk membantu memahami makna rekonsiliasi. Di beberapa daerah, muncul usaha memasukkan ajaran Gereja yang bersumber dari Kitab Suci dalam kebiasaan dan ungkapan lokal itu. Usaha ini dibarengi dengan menghilangkan bagian-bagian dalam beberapa ritus lokal yang bertentangan dengan ajaran Kristiani.

Peserta ALF dari Filipina, Mgr Florencio Pascual Salvador mengungkapkan, budaya lokal dapat sangat membantu umat untuk semakin memahami makna pengampunan. “Yang perlu dikembangkan adalah berusaha menjalankan atau mengembangkan pemahaman tentang Sakramen Pengakuan melalui budaya di masing-masing negara,” ungkap mgr Boy, sapaannya. Namun tidak semua ungkapan dalam budaya lokal dapat dipakai karena penggunaan simbol-simbol berbeda di masing-masing budaya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*