Artikel Terbaru

Inkulturasi Sakramen Rekonsiliasi?

Bernadus Boli Ujan SVD
[HIDUP/Antonius E Sugiyanto]
Inkulturasi Sakramen Rekonsiliasi?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBudaya turut memengaruhi setiap umat untuk bersikap sebagai pribadi Kristiani. Kesalahan yang dilakukan selalu memiliki akibat untuk diri sendiri dan alam semesta.

Sakramen Rekonsiliasi menjadi tema yang dibicarakan dalam Asian Liturgy Forum (ALF) yang berlangsung di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Kompleks Puja Mandala Nusa Dua, Bali, Senin-Jumat, 10-14/10. Ketika berhadapan dengan budaya lokal, Sakramen Rekonsiliasi menjadi sakramen yang tidak bisa diinkulturasi dalam arti sesungguhnya. Membahas tema ini, berikut petikan wawancara dengan Romo Bernadus Boli Ujan SVD, peserta ALF dari Indonesia:

Bagaimana Romo melihat hilangnya “sense of sin” di kalangan anak muda dan masyarakat urban?
Hal ini mungkin terjadi karena pengaruh begitu banyak informasi termasuk tentang hal-hal moral yang merelatifisir kesadaran akan kesalahan atau dosa. Ada yang merasa kesadaran akan dosa itu tergantung pada penilaian pribadi, bukan pada pandangan atau aturan yang dikeluarkan lembaga, seperti Gereja.

Karena sangat pribadi maka tafsiran bisa bermacam-macam. Bagi seseorang hal tertentu bukan dosa, tapi bagi orang lain bisa masuk kategori dosa. Namun karena ada pengaruh orang yang berpikiran bahwa ini tidak dosa, bisa saja dia mengambil pemikiran yang sama. Hal ini sangat cepat terjadi di daerah urban, tapi juga mulai terasa di desa-desa. Sekarang alat komunikasi modern mempermudah orang mengakses beragam informasi seperti itu.

Adakah hal lain, dalam konteks Asia, yang memengaruhi kesadaran orang akan dosa?
Bagi orang Asia, adat-istiadat masih punya pengaruh, juga adat-istiadat yang berkaitan dengan dosa, pengampunan, dan upacara pemulihan. Pandangan tentang dosa dalam budaya turut memengaruhi untuk bersikap sebagai orang-orang Kristen. Hal ini karena orang bertumbuh dalam budayanya.

Namun budaya ini diancam globalisasi. Kalau ada gerakan menghidupkan budaya setempat menghadapi globalisasi, orangorang setempat bisa memperoleh manfaat yang besar. Namun kalau tantangan ini terlalu kuat dan mereka lemah dalam menghadapi tantangan globalisasi, nilainilai positif yang juga universal dalam budaya mereka dapat juga terancam.

Bagaimana seharusnya umat bersikap terhadap dosa?
Ada hal positif yang kalau kita pelajari sungguh-sungguh dapat membantu menjadi orang yang bermoral. Kesalahan yang dilakukan selalu memiliki akibat, baik bagi dirinya maupun orang lain; bagi manusia maupun alam semesta. Hal yang kurang positif kalau mereka merasa tak bersalah dan akibat dari dosa itu tidak mereka rasakan. Kalau mereka sendiri tak merasakan akibatnya, mereka akan menyembunyikan kesalahan dan dosa. Dengan demikian mereka akan meneruskan kesalahan itu. Katekese yang cocok dengan pandangan masyarakat setempat tentu sangat berguna.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*