Artikel Terbaru

Penghormatan terhadap Jenazah

Penghormatan terhadap Jenazah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comJika biarawan, biarawati, imam, dan beberapa awam meninggal, biasanya jenazahnya disemayamkan di gereja sebelum dimakamkan. Apakah kriterianya agar jenazah umat yang meninggal boleh disemayamkan di gereja? Jika jenazah itu akan dikremasi, bolehkah sebuah Kitab Suci disertakan di dalam peti? Apakah perlu menyertakan pakaian-pakaian di dalam peti jenazah? Apa dasarnya bahwa sekarang petugas awam boleh memakamkan?

Adrian Waworuntu, Manado

Pertama, secara resmi tidak ada syarat yang menentukan apakah jenazah seseorang boleh disemayamkan di gereja atau tidak. Ajaran Gereja secara eksplisit menetapkan “… hendaknya diusahakan agar dalam pemakaman jangan ada pandang bulu dan orang-orang miskin jangan sampai tidak diberi pemakaman yang semestinya” (KHK Kan 1181). Jadi, setiap umat boleh meminta agar dibawa ke gereja untuk didoakan. Tentu saja pertimbangan praktis berlaku, misalnya apakah gedung gereja bisa digunakan untuk Misa atau ibadat arwah pada waktu yang diinginkan. Biasanya di antara umat berlaku pertimbangan rohani, yaitu jika selama hidupnya yang bersangkutan sangat aktif dalam kegiatan Gereja atau memainkan peran penting dalam kepengurusan Paroki/Stasi, maka muncul keinginan untuk memberikan penghormatan terakhir di gereja dalam bentuk ibadat.

Kedua, penyertaan sebuah Kitab Suci di dalam peti bisa merupakan suatu doa agar Sabda Tuhan yang telah menjadi makanan rohani dan menjadi pembimbing selama hidup di dunia bagi orang yang meninggal itu akan menjadi kekuatannya untuk menghadap Bapa di surga. Penyertaan Kitab Suci juga bisa menjadi peneguhan bahwa janji Tuhan dalam Kitab Suci akan dipenuhi untuk orang yang meninggal itu. Baik untuk jenazah yang dimakamkan maupun yang dikremasi, berlaku hal yang sama. Tentu terasa aneh jika untuk jenazah yang dimakamkan, sebuah Kitab Suci boleh disertakan, tetapi untuk jenazah yang dikremasi, Kitab Suci tidak boleh disertakan. Baik dalam pemakaman maupun dalam kremasi, Kitab Suci itu akan kembali menjadi debu biarpun dengan cara yang berbeda.

Ketiga, kematian adalah pintu masuk ke dalam hidup abadi. Apa yang dibutuhkan dalam hidup abadi berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan selama hidup di dunia ini. Maka, sebenarnya tidak perlu menyertakan pakaian atau harta milik lainnya ke dalam peti jenazah. Malahan, lebih baik jika pakaian atau harta milik itu bisa disumbangkan untuk orang-orang miskin yang masih membutuhkan. Sabda Yesus mengingatkan bahwa dalam hidup abadi seseorang sudah tidak lagi kawin atau dikawinkan, tidak lagi melakukan jual-beli. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hidup di dunia ini dan hidup abadi.

Keempat, karena Sakramen Baptis, setiap orang diikutsertakan dalam imamat Kristus untuk melakukan tritugas sebagai imam, nabi, dan raja. Partisipasi awam pada imamat Kristus ini disebut imamat umum. Imamat kaum beriman awam ini dibedakan dari imamat mereka yang ditahbiskan, yaitu imamat jabatan. Berdasarkan imamat umum, seorang awam bisa disiapkan dan dilantik untuk membantu para imam dalam melaksanakan tugas-tugas non-sakramental, antara lain pengiriman komuni untuk orang sakit, upacara-upacara seputar kematian. Dalam upacara penutupan peti, pemakaman atau kremasi, petugas awam juga boleh memercikkan air dan mendupai untuk menyucikan jenazah maupun makam. Tentu saja dia juga boleh memberikan renungan. Biasanya petugas awam juga mengenakan pakaian liturgi yang sesuai, tetapi tanpa stola.

Kehadiran petugas awam sebagai pemimpin upacara seputar kematian sangat dianjurkan jika orang yang meninggal itu belum dibaptis Katolik atau mempunyai halangan yang berat, misalnya berkaitan dengan pernikahan, pernah murtad.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 30 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*