Artikel Terbaru

Beato Antonio Primaldo dkk: Dipenggal, Karena Iman akan Kristus

Martir Otranto: Katedral Keuskupan Agung Otranto berhiaskan tulang belulang 800 martir Otranto. [marinni.lifejournal.com]
Beato Antonio Primaldo dkk: Dipenggal, Karena Iman akan Kristus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Antonio Primaldo bersama 800 kawannya dibantai tentara Turki karena tidak mau berkhianat pada iman akan Kristus. Ajaib! Setelah ia dipenggal, badan tanpa kepalanya masih berdiri tegak menyaksikan pemenggalan kawan-kawannya hingga selesai.

Antonio Pezzula, seorang tukang jahit, berasal dari Otranto, kota kecil yang terletak di ujung paling Timur semenanjung Italia. Ia lebih dikenal sebagai Antonio Primaldo. Ia hidup sekitar tahun 1480-an. Kala itu, Otranto dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa. Mereka hidup tenang, aman, dan tenteram.

Membela tanah air
Ketenangan Otranto pecah ketika berlaksa-laksa tentara Ottoman Turki datang dengan bendera Islam. Pasukan berkekuatan 18 ribu serdadu bersenjata lengkap, diangkut dengan puluhan kapal perang bersenjata berat dan ringan. Mereka bermaksud menaklukkan kotakota di Italia, sebelum masuk ke Roma. Mereka tiba di Otranto pada 28 Juli 1480. Pasukan itu dipimpin Gedik Ahmed Pasha, Jenderal Turki yang kesohor.

Penduduk Otranto tidak menyangka akan kedatangan tamu tak diundang itu. Mereka masih menjalankan rutinitas sehari-hari, ketika Turki meringsek Otranto. Dengan gigih, warga Otranto melawan dengan segala cara untuk mengusir musuh. Primaldo pun bergabung dengan saudara-saudara sekotanya untuk mempertahankan diri. Meski terjadi perlawanan, tentu saja kekuatannya tidak seimbang. Selain tidak terlatih perang, warga Otranto juga hanya sepertiga dari pasukan Turki.

Setelah perang berhari-hari, penduduk Otranto lelah dan kelaparan. Pada 14 Agustus 1480, ratusan pria dan anak laki-laki di atas 15 tahun, digiring menuju Bukit Minerva. Primaldo juga ditangkap dan masuk dalam bilangan tahanan perang bersama rekan-rekannya. Mereka jatuh bangun merayap ke Bukit Minerva. Setapak demi setapak, ratusan laki-laki terhuyung-huyung dengan terikat tali menapaki jalan terjal. Di belakangnya, istri dan sanak keluarga mengiringi dengan isak tangis. Sesekali terdengar jerit pilu meneriakkan nama Tuhan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*