Artikel Terbaru

Dominikus Savio Maryanto: Penemu Teknik Ballpoint Circullar Patern

Dominikus Savio Maryanto
[NN/Dok.Pribadi]
Dominikus Savio Maryanto: Penemu Teknik Ballpoint Circullar Patern
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKala bocah, ia dicibir tetangga karena sering tak pulang ke rumah. Kini ia menjadi pelukis handal dan kerap melakukan pameran tunggal. Ia menemukan teknik melukis ballpoint cicullar patern.

Detik terus berjalan menuju tengah malam. Dominikus Savio Maryanto masih asyik melukis sebuah wajah. Beberapa saat ia berhenti melukis dan menatap jam dindingyang menunjukkan pukul dua dini hari. Yanto biasa melukis hingga fajar menyingsing.

Sekadar istirahat, ia membuka Facebook dan melihat pesan yang masuk. Sebuah pesan dari Amerika Serikat membuat ia terkejut. Pesan itu mengatakan bahwa Yanto mendapat penghargaan dari Gold Frame di Amerika, sebagai penemu teknik menggambar ballpoint cicullar patern, yakni melukis menggunakan pulpen, dengan cara membuat lingkaran-lingkaran kecil tipis sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah gambar yang diinginkan.

Atas undangan Ballpoint Pen Art Group, sebuah komunitas seni lukis dunia, Yanto pernah diminta mengirimkan hasil lukisan ballpoint cicullar patern karyanya. Ia mengirimkan tiga lukisan: lukisan Paus Fransiskus, Paus Yohanes Paulus II, dan Romo Raymundus Sianipar OFM, Pastor Paroki St Clara Bekasi. Dua lukisan terakhir mendapatkan penghargaan Gold Frame. “Saya belum sempat mengurus hak cipta untuk teknik lukisan saya itu,” ungkap ayah dua anak ini.

Jejak Panjang
Sejak kecil, Yanto sudah menunjukkan minat yang besar pada dunia melukis. Di dekat rumahnya di Ungaran, Jawa Tengah, ada seorang Katolik yang memiliki sanggar lukis. Pemilik sanggar memperbolehkan Yanto dan remaja lain untuk datang dan belajar di sanggar itu. Bahkan jika anak-anak ingin tidur di sana, pemilik sanggar pun mengizinkan. Sebagai imbalan, anak-anak akan membersihkan tempat itu. “Memang nggak disuruh bersih-bersih, tapi sudah gratis, masak tak mau bersih-bersih?” ujar Yanto. Meski hampir tiap hari menginap di sanggar, Yanto selalu menyediakan waktu untuk ikut Misa harian dan menjadi putra altar.

Karena selalu tidak di rumah, para tetangga menaruh curiga bahwa Yanto ikut mabuk-mabukan seperti kebanyakan anak-anak di kampungnya kala itu. “Bahkan ada yang bilang, mabuk tiap malam, kok pagi-pagi ikut Misa dan jadi putra altar pula,” kenang Yanto. Padahal, Yanto mengaku, jangankan mabuk-mabukan, merokok saja tidak.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*