Artikel Terbaru

Dasar Hukum Prodiakon Wanita

Sumber: ratnaariani.wordpress.com
Dasar Hukum Prodiakon Wanita
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSejak malam Natal 2005, hadirlah di paroki saya prodiakon wanita. Apakah boleh saya bernazar bahwa saya hanya mau menyambut Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa hosti dari tangan pastor, suster, bruder, dan frater (rohaniwan – rohaniwati)? Apa dasar hukum prodiakon wanita? Dari prodiakon bapak-bapak, apakah lebih pantas menyambut dengan lidah? Bagaimana kalau terpaksa menyambut melalui prodiakon bapak-bapak, kita ambil sendiri saja?

Leo Lima Namang, Bekasi

Pertama, nama resmi untuk prodiakon yang Bapak maksud ialah “pelayan komuni tak lazim” (Redemptionis Sacramentum 156) atau “pelayan luar biasa komuni suci” (KHK Kan 910 #2). Sedangkan pelayan yang lazim untuk membagi komuni ialah Uskup, Imam dan Diakon (KHK kan 910 # 1). Mereka inilah yang harus menerimakan komuni kepada anggota awam di antara umat beriman pada saat perayaan Misa. Namun demikian, bila kebutuhan Gereja memintanya karena kekurangan pelayan, juga kaum awam bisa menjalankan tugas membagikan komuni suci (bdk KHK Kan 910 #2 dan 230 # 3). Mereka ini tidak dibatasi hanya pada kaum pria, tetapi juga terbuka pada kaum wanita. Baik pria maupun wanita, baik awam maupun religius, boleh melayani sebagai pelayan luar biasa komuni suci (bdk Inaestimabile donum no 10).

Yang dimaksud dengan “kebutuhan Gereja” di atas ialah, misalnya, bila imam terganggu kesehatannya atau karena usia lanjut atau karena jumlah orang beriman yang begitu banyak sehingga perayaan Misa akan menjadi terlalu lama (RS 158). Dalam hal ini, pelayan luar biasa komuni suci yang telah dilantik secara resmi bisa membantu membagikan komuni. Dalam kasus-kasus khusus yang tak terduga sebelumnya, seorang awam biasa bisa diberi izin oleh Imam yang memimpin Ekaristi untuk membagikan komuni suci. Tetapi, izin itu hanya untuk satu kesempatan itu (RS 155).

Kedua, tidak ada alasan yang absah untuk menghindari menerima komuni suci dari tangan pelayan luar biasa komuni suci. Maka, tidak ada alasan untuk bernazar seperti yang Bapak lakukan. Nilai luhur komuni suci tidak dikurangi karena komuni itu dibagikan oleh pelayan yang bukan imam atau diakon. Kaum beriman awam maupun religius, pria maupun wanita, sama-sama memiliki imamat umum berkat Sakramen Baptis yang diterimanya, dan karena itu dapat ditugaskan sebagai pelayan luar biasa komuni suci.

Dapat dimengerti jika umat merasa perlu membiasakan diri menerima komuni dari petugas yang bukan imam, diakon atau rohaniwan, tetapi dari awam. Hal ini lebih menyangkut perasaan atau kebiasaan seseorang. Perasaan dan kebiasaan yang demikian perlu dididik untuk bisa menerima dengan baik. Gereja tidak membedakan petugas awam yang pria atau wanita. Baik pria maupun wanita, keduanya adalah citra Allah (bdk. Kej 1:27; baca HIDUP, No. 10, 11 Maret 2007).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*