Artikel Terbaru

Peringatan Kardinal Sarah

Peringatan Kardinal Sarah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Artikel ini merupakan tanggapan terhadap artikel berjudul “Liturgia Instauranda” yang ditulis Mario Tomi Subardjo SJ, dalam Majalah HIDUP edisi No.41, 9 Oktober 2016. Tulisan Mario Tomi Subardjo SJ sendiri merupakan tanggapan atas artikel saya bertajuk “Liturgi: Menghadap Allah”, Majalah HIDUP, 31 Juli 2016.

Artikel saya (Liturgi: Menghadap Allah) merupakan ringkasan pidato Prefek Kongregasi Liturgi Suci dan Tertib Sakramen Kardinal Robert Sarah pada Pembukaan Konferensi Internasional Sacra Liturgia di London, 5 Juli 2016. Ringkasan itu untuk memperkenalkan kepada pembaca pendapat Kardinal Sarah dalam sebuah forum konferensi yang bergengsi. Pidato itu hendaknya menggugah, mengingatkan, dan mengajak kita untuk berefleksi sejenak tentang pembaruan liturgi sejak Konsili Vatikan II (KVII). Dalam pidato, Kardinal Sarah mengutip pendapat Paus Emeritus Benediktus XVI (dulu Kardinal Ratzinger): “Bila liturgi muncul pertama-tama sebagai ruang kerja aktivitas manusia kita, maka apa yang hakiki dilupakan: yakni Allah. Karena liturgi bukan tentang kita, tetapi tentang Allah. Melupakan Allah merupakan bahaya yang akan terjadi di zaman kita”.

Jelaslah, kita diajak mawas diri, ketika mengadakan terjemahan teks liturgi dan usaha inkulturasi. Pidato Kardinal Sarah hendaknya mendorong ahli liturgi dan teolog untuk mendalami pembaruan-pembaruan beserta aneka masalah yang muncul. Pidato Kardinal Sarah pun serta kritik-kritiknya dapat menjadi studi dan penelitian ilmiah bagi mahasiswa teologi, termasuk mahasiswa Pontificio Istituto Liturgico Sant’Anselmo Roma. Sudah barang tentu mahasiswa teologi berbeda dengan Tim Liturgi Paroki. Patut dicatat, kebanyakan anggota Tim Liturgi Paroki adalah orang-orang muda yang lahir setelah KV-II, sehingga mereka tak pernah mengalami perayaan Misa Ad Orientem, apalagi mereka tak menghayati secara eksistensial spiritualitas liturgi sebelum Konsili itu. Hanya membaca teologi sebelum KV-II tentu berbeda dengan orang-orang tua yang pernah mengalaminya.

Kardinal Ratzinger merupakan teolog sebelum KV-II, terlibat dalam Konsili itu dan menulis teologi sebagai pendapat pribadi ketika ia menjadi paus. Kardinal Sarah adalah seorang Afrika yang menegaskan, “Liturgi bukanlah tempat untuk mengembangkan budaya saya. Melainkan, liturgi adalah tempat ketika budaya saya dibaptis, ketika budaya saya diangkat menuju Yang Ilahi.” Dua tokoh ini, menurut saya bukan orang sembarangan, mengkritisi pembaruan liturgi agar tetap konsisten dengan semangat awal Konsili itu dan mengingatkan kita agar tidak terjadi kesalahpahaman. Mereka berdua adalah pelaku pembaruan yang bertumbuh secara organis dalam perjalanan sejarah Gereja.

Tentu saja pembaruan liturgi harus berpedoman pada Sacrosanctum Concilium (SC), dan juga dokumen KV-II yang lain. Namun tak semua orang membaca dengan teliti dokumen-dokumen itu. Apalagi membaca sejarah KV-II dan memberikan penafsiran yang tepat. Dokumen-dokumen setelah KV-II, seperti Redemptionis Sacramentum, tanggapan para ahli teologi dan pengalaman pastoral sangat berguna bagi kita untuk melaksanakan pembaruan (renewal) KV-II secara tepat dan baik.

Kritik Kardinal Sarah bukanlah penyelewengan terhadap roh pembaruan KV-II, tapi memberi peringatan akan kecenderungan penyimpangan. KV-II justru mencanangkan perlunya pembaruan terus-menerus, bukan pembaruan sekali jadi dan sekali sempurna. Maka kita harus mampu dan bersedia bekerjasama dengan Roh Kudus untuk melakukan penyesuaian dengan situasi dan tantangan dunia modern. Himbauan untuk Misa Ad Orientem misalnya, hendaknya ditanggapi sebagai dialog untuk menemukan mutiara spiritualitas dalam perjalanan Sejarah Liturgi dan Gereja. Banyak Konsili telah dilaksanakan dalam Sejarah Gereja untuk penyesuaian dan pembaruan. Penyesuaian dan pembaruan tak boleh melupakan sejarah. Kita tak boleh melaksanakan penyesuaian dan pembaruan liturgi dengan sembrono.

RD Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 30 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*