Artikel Terbaru

Pembasuhan Kaki: Tanda Pelayanan

Pembasuhan Kaki Para Rasul.
[paintingandrame.com]
Pembasuhan Kaki: Tanda Pelayanan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPembasuhan kaki dalam Misa Kamis Putih kini tidak hanya melibatkan laki-laki. Seluruh umat Allah, tua-muda, religius-awam, bahkan wanita bisa menjadi ”rasul”.

Pada 6 Januari 2016, Kongregasi Tata Ibadat dan Sakramen Vatikan mengeluarkan sebuah dekrit In Missa in Caena Domini, terkait dengan praksis pembasuhan kaki dalam liturgi hari raya Kamis Putih. Kontroversi yang langsung muncul adalah pemberian judul berita tentang perempuan bisa menjadi rasul dalam upacara pembasuhan kaki tersebut. Judul tersebut tidak salah, namun bisa mempersempit persoalan, karena keputusan yang tertulis lebih berbunyi, terdiri dari pria dan wanita, dan adalah layak kalau mereka terdiri dari mereka yang muda dan yang tua, yang sehat dan yang sakit, klerus, kaum religius pria serta wanita dan kaum awam. Persoalannya lebih mau memperluas cakupan dengan maksud, sesuai intensinya, menandakan kerendahan hati serta kasih Kristus yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Makna dan Tanda
Injil Yohanes menunjukkan dengan jelas mandat yang diberikan Kristus kepada para murid-Nya, “Kamu pun wajib saling membasuh kaki” (Yoh 13;14). Mandat tersebut merupakan suatu perintah untuk saling mengasihi, tidak hanya karena hal itu diteladankan oleh Kristus, namun pula karena hal itu merupakan penanda akan murid-murid Kristus (lih. Yoh 13:34-35). Sebab memang Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, yang dengannya memberikan keselamatan kepada seluruh umat manusia.

Itulah makna pembasuhan kaki yang diteladankan Kristus. Ritus pembasuhan kaki dalam liturgi Kamis Putih, menandakan apa yang dilakukan Kristus kepada para murid-Nya, dan mengungkapkan pemberian diri-Nya, yang ditandai dengan sikap pelayanan. Namun, dalam tradisi Gereja, ritus tersebut tidak dikatakan sebagai wajib untuk dilakukan, namun bisa dijalankan berdasarkan pertimbangan pastoral.

Ritus tersebut sudah berjalan sejak abad ketujuh, dengan berbagai variasinya, terlebih di awal praktiknya. Di beberapa tempat, melibatkan perempuan sebagai “rasul” dalam upacara pembasuhan kaki sudah cukup lazim diprak tikkan, bahkan di Argentina, pun oleh Jorge Mario Bergoglio, selaku Uskup Agung Buenos Aires. Memang dikatakan dia melakukan itu saat merayakan Kamis Putih di penjara, rumah sakit, dan perkampungan kumuh. Sempat konferensi uskup Amerika Serikat mengajukan pertanyaan terkait soal itu, karena di beberapa kawasan Amerika praktik itu sudah dibuat. Jawaban dari Roma pada tahun 1987 sangat jelas bahwa upacara pembasuhan kaki hanya melibatkan laki-laki yang dipilih (viri selecti) sebagai gambaran para rasul.

Paus Fransiskus dikatakan sudah secara lisan menyatakan keinginannya agar ada perubahan dalam ritus pembasuhan kaki kepada Kardinal Robert Sarah, Perfek Kongregasi Tata Ibadat dan Sakramen, pada November 2014. Surat pernyataan akan hal itu dikirimkan tanggal 20 Desember 2014. Perlu satu tahun lebih untuk mempelajari permohonan tersebut. Maksudnya agar intensi atau makna dari peristiwa tersebut dapat semakin di maknai. Perintah kasih untuk saling melayani tersebut ditujukan dan melibatkan semua, tanpa ada pengecualian serta pembedaan. Demi makna dan intensi tersebut, maka perlu suatu penanda yang lebih aktual, agar perintah kasih dan pelayanan tersebut tidak terkaburkan oleh adanya pengecualian dan pembedaan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*