Artikel Terbaru

Sabtu Sunyi

Sabtu Sunyi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHari Sabtu pada Pekan Suci disebut sebagai Sabtu Sunyi. Biasa tidak ada kegiatan liturgis apapun dilakukan pada hari itu. Ada beberapa paroki yang pada Sabtu pagi mengadakan ibadat “Maria yang berdukacita”. Apakah ibadat ini adalah liturgi resmi Gereja? Mengapa tidak semua paroki mengadakan? Apakah ibadat seperti itu tidak merusak suasana “sunyi” seperti yang biasanya dilakukan? Apa manfaatnya?

Heriberta Kusumawati, 08113775xxx

Pertama, Sabtu Paskah memang disebut Sabtu Sunyi. Sifat “sunyi” diwujudkan dalam beberapa hal. Pada hari ini Gereja tidak merayakan Kurban Misa. Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci (viaticum) bagi orang sakit. Perayaan Sakramen Perkawinan dan sakramen-sakramen lain dilarang, kecuali Sakramen Tobat dan Pengurapan Orang Sakit. Gereja tinggal di makam Tuhan dan merenungkan penderitaan, wafat, dan turun-Nya ke alam maut serta menantikan kebangkitan Tuhan dengan puasa dan doa. Dalam situasi ini amat dianjurkan merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat, atau ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini. Inilah ciri Sabtu Paskah yang harus diajarkan kepada kaum beriman. (bdk. Perayaan Paskah dan Persiapannya, No. 73- 76).

Memang ibadat “Maria yang berdukacita” bukan liturgi resmi Gereja, tetapi merupakan kebaktian devosional. Ibadat ini sama sekali tidak bertentangan, justru sangat cocok membantu penghayatan sifat Sabtu Sunyi ini. Mengingat hal-hal positif ini, sungguh sangat baik jika setiap paroki bisa mengadakan ibadat ini bersama umat.

Kedua, Sabtu Paskah ini menampilkan suasana yang membingungkan. Para murid pasti sangat terguncang menyaksikan Guru mereka disiksa, memanggul salib, dan akhirnya wafat di salib. Mungkin mereka juga merasa bersalah karena tidak membela Sang Guru. Akibatnya mereka melihat masa depan sangat suram, seperti dua murid dari Emaus (Luk 24:13). Situasi ini bagaikan air keruh yang menghalangi para murid untuk melihat dengan jelas.

Dalam situasi keruh tersebut, Bunda Maria tampil sebagai sosok yang dalam keheningan menyimpan semua itu dalam hati dan berusaha menemukan kehendak Allah (Luk 2:19.51). Bunda Maria merangkai kembali lembar-lembar sukacita dan dukacita bersama Yesus dan berusaha menemukan garis merah rencana Allah di tengah situasi keruh yang digeluti. Tujuh peristiwa dukacita Maria mengajak kita masuk secara konkret satu per satu dalam pergulatan batin Maria di tengah kegelapan iman. Keheningan menjadi satu ciri kuat Bunda Maria dalam menghadapi guncangan dan kebingungan. Keheningan membawa kebeningan batin.

Kebeningan batin memantapkan, menyelaraskan, dan membuka keindahan serta kebenaran iman. Pikiran dijernihkan dan hati dilapangkan sehingga Bunda Maria dimampukan menangkap dan memahami kebenaran Sabda Allah serta merasakan kemuliaan-Nya. Semua ini akan memberikan penghiburan iman dan harapan. Dalam keheningan Bunda Maria menjadi lebih percaya akan kabar malaikat tentang Yesus (Luk 1:32- 33) daripada tragedi kematian-Nya di Kalvari. Kebeningan batin membuat Bunda Maria lebih berpegang kepada pengharapan akan pemenuhan janji Allah (Rom 4:18.20-21) daripada perasaan putus asa dan ketakutan. Ketika Allah tidak segera memenuhi janji, penghiburan itu memampukan Bunda Maria tegak berdiri dalam iman dan mantap berjalan dalam pengharapan. Godaan putus asa ditepis, dan Bunda Maria belajar menghayati iman dan pengharapan (1 Ptr 1:3) di tengah morat-marit situasi Sabtu Sunyi. Melalui Bunda Maria yang penuh cinta, para murid belajar tumbuh dalam iman dan pengharapan.

Ketiga, melalui teladan dan bersama Bunda Maria kita bisa menemukan dan menghayati kedalaman makna rohani Sabtu Sunyi. Ibadat “Maria yang berdukacita” akan memampukan kita memaknai pengalaman-pengalaman pribadi “Sabtu Sunyi” yang terjadi dalam hidup kita.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 13 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*