Artikel Terbaru

Lukas Bora Malo dan Kristina Ege: Robohnya Rumah Kami

Lukas dan Tina bersama sang buah hati.
[Emanuel Dapa Loka]
Lukas Bora Malo dan Kristina Ege: Robohnya Rumah Kami
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIKI.comGempa berkekuatan 6,6 skala richter nyaris merenggut putri bungsunya. Suami istri yang hidup dari hasil sawah ini masih bersyukur karena berkat Tuhan.

Kampung Pu’u Lobha, Desa Kabalidana, Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Jumat, 12 Februari 2016. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.02 WITA. Meski waktu sudah merangkak petang, cakrawala masih berpijar terang. Barangkali itulah yang disebut “siang panjang”.

Saat itu, Brigita, bocah berusia 14 bulan, sudah tertidur pulas di atas dipan bambu. Gita–demikian panggilannya–sudah terlelap sejak dua jam sebelumnya. Sementara itu, beberapa bocah lain, yakni Nona, Anton, Jesi, dan Shintia sedang bermain di halaman rumah. Nona yang sedikit lebih besar dari bocah-bocah lainnya, belum lama selesai memberi makan beberapa ekor anak babi di kandang.

Tiba-tiba bumi berguncang hebat dan sontak mengagetkan seluruh warga Pu’u Lobha. Kristina Ege–ibu dari beberapa anak itu–baru beberapa puluh meter melangkah dari halaman rumahnya menuju sawah. Jarak rumah Kristina dengan sumber kehidupan keluarganya tak terlalu jauh. Perempuan paruh baya itu berbalik arah. Sambil berlari, dia berteriak lantang ke anak perempuan yang paling besar, “Nona…! Nona…! Epu! Alikamu…!” (Nona…! Nona…! Gempa! Adikmu…!).

Selamatkan Anak Saya
Tina terus berlari menuju gubuknya. Gempa beberapa kali menghentikan langkahnya sementara. Bahkan gempa juga sempat membanting tubuh perempuan itu ke tanah. Tina tak mau menyerah dengan kekuatan alam. Dia selalu bangkit setiap kali tubuhnya roboh diguncang gempa. Keselamatan nyawa putrinyalah yang memaksa Tina terus melanjutkan langkahnya.

Nasib gadis kecil itu pulalah yang membuat Tina mengesampingkan keselamatan dirinya. Jika hidup dan kematian adalah sebuah transaksi, Tina lebih memilih dirinya dipanggil Yang Mahakuasa ketimbang putrinya. Masih banyak hari yang harus mereka jalani. Masih banyak impian yang harus mereka patri. “Tuhan, selamatkan anak saya,” harapnya dalam hati.

Sambil berlari, Tina tak berhenti menyuruh Nona, keponakannya, agar membopong keluar adik sepupunya dari dalam rumah. Tina bertambah panik, rumah yang belum rampung dibangun naik-turun mengikuti liukan gempa. Jantungnya nyaris berhenti. Dengan nafas tersengalsengal, dia berharap, batu-batu bangunan rumahnya tak merajam putri kecilnya yang tak berdosa.

Dengan refleks, Nona segera masuk ke rumah tantenya. Dia mengambil Gita yang tetap tidur pulas, seolah tak hirau dengan gempa berkekuatan 6,6 skala richter itu. Mungkin juga, bocah kecil itu mengira, dia sedang berada dalam ayunan di dunia mimpinya. Entahlah, ternyata, hanya selang dua meter dari balai-balai tempat Gita tidur, tujuh batu tembok telah roboh.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*