Artikel Terbaru

Tipe Imam di Kamar Pengakuan

Tipe Imam di Kamar Pengakuan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDalam penerimaan Sakramen Tobat ada imam yang hanya membatasi dua dosa yang paling besar, tanpa memberi nasihat dan langsung memberi penitensi dan pengampunan. Ada imam yang bertanya tentang dosa secara rinci sehingga membuat risih, lalu memberi nasihat panjang dan penitensi yang diberikan juga berat. Ada juga imam yang memberi kesempatan mengatakan semua dosa, tetapi nasihat dan penitensi yang diberikan hampir selalu sama bagi semua umat. Apakah tidak ada pedoman yang sama bagi para imam dalam menjalankan Sakramen Tobat?

Laurentia Maria Ariyanti, 08133313xxxx

Pertama, pelaksanaan Sakramen Tobat tentu dipengaruhi banyak faktor, misal usia imam, kematangan kepribadian imam, tuntutan kebutuhan pastoral yang ada, dan yang lain. Pelayanan seorang imam yang setengah baya bisa lebih kebapaan daripada seorang imam muda. Tetapi mungkin juga karena tipe kepribadian dan pembawaan, seorang imam muda mampu menunjukkan pengertian yang mendalam seperti seorang bapak. Tipe kepribadian dan kematangan juga sangat mempengaruhi nasihat dan penitensi yang diberikan.

Gereja tidak membatasi penyebutan jumlah dosa. Tetapi bisa saja karena jumlah umat yang hendak mengaku dosa begitu banyak dan waktu yang tersedia begitu sempit, maka seorang imam mengambil kebijakan pastoral dengan membatasi jumlah dosa yang dikatakan. Tujuannya tentu agar lebih banyak umat bisa dilayani dan menikmati kerahiman pengampunan Allah. Tentu saja pengampunan diberikan untuk semua dosa, bukan hanya untuk dua dosa yang dikatakan itu.

Kedua, memang ada petunjuk umum tentang pelaksanaan Sakramen Tobat. Saya tidak tahu apakah selama ini sudah ada pelatihan yang mempersiapkan para imam menjadi bapa pengakuan sesuai dengan petunjuk umum itu? Katekismus menunjuk kepada beberapa karakter yang seharusnya ditiru para imam dalam pelayanan Sakramen Tobat ini, “Ia memberi pelayanan gembala yang baik, yang mencari domba yang hilang; pelayanan orang Samaria yang baik, yang membalut luka-luka; pelayanan sang bapa, yang menantikan anak yang hilang dan menerimanya dengan penuh kasih sayang setelah ia kembali; pelayanan hakim yang benar, yang tanpa memandang bulu menjatuhkan keputusan yang sekaligus benar dan rahim. Pendeknya, imam adalah tanda dan alat cinta Allah yang penuh belas kasihan kepada orang berdosa.” (KGK 1465). Imam bukanlah “tuan” tetapi “pelayanan pengampunan Allah”. Teladan yang harus ditiru ialah Kristus dengan niat dan cinta-Nya kepada manusia. Imam harus menyerahkan si pentobat kepada kerahiman Allah (KGK 1466).

Ketiga, Paus Fransiskus dalam surat Misericordiae Vultus (No. 17) menegaskan kembali peran bapa pengakuan seperti yang dikatakan Katekismus. Para bapa pengakuan “haruslah menjadi tanda-tanda otentik kerahiman Bapa”, yaitu dengan ikut merasakan “menjadi peniten dalam pencarian kerahiman-Nya”. Imam ikut serta dalam perutusan Yesus sebagai tanda nyata kerahiman Bapa, “hamba-hamba yang setia dari kerahiman Allah”. Dibutuhkan juga ungkapan manusiawi seperti Bapa yang maharahim dalam Injil Lukas, yaitu dengan menyambut dengan sukacita, merangkul, dan memulihkan kehormatan anak yang hilang itu. Para bapa pengakuan “tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berguna” tetapi “belajar menerima permohonan untuk bantuan dan kerahiman yang memancar dari hati setiap peniten”. Bapa Suci merangkum, “para bapa pengakuan dipanggil untuk menjadi sebuah tanda keutamaan kerahiman selalu, di mana-mana, dan dalam setiap situasi, tidak peduli apapun juga.” (MV 17).

Keempat, tidak ada bapa pengakuan yang sungguh sempurna, tetapi perlu percaya bahwa setiap imam, dalam keterbatasan dan kekurangan, digunakan Allah sebagai sarana rahmat-Nya dan untuk melaksanakan rencana-Nya. Allah jugalah yang akan menyempurnakan pelayanan imam itu.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*