Artikel Terbaru

Berdoa dengan Musik

Berdoa dengan Musik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, saya Rudi (21 tahun), Mudika di sebuah Paroki di Malang, Jawa Timur. Saya merasa akhir-akhir ini iman saya ditantang. Saya menyadari bahwa Gereja Katolik itu kaya akan tradisi dan khazanah khusuk ketika berdoa. Namun, saya tidak merasakannya. Saya merasa lebih intim dengan Tuhan ketika mendengar lagu sambil berdoa. Saya juga suka belajar sambil mendengar musik. Saya tahu dalam liturgi Katolik musik-musik seperti jazz, rock and roll dan aliran metal tidak mendapat tempat. Tetapi saya merasakan hikmat berdoa itu lewat lagu-lagu beraliran tersebut. Mohon masukan Romo. Apakah cara berdoa saya salah atau apa yang perlu saya buat? Terima Kasih.

Rudi, Malang

Saudara Rudi yang baik, saya yakin saat ini Anda berada dalam situasi yang baik. Saya menghargai pertanyaan Anda melalui rubrik ini, karena itu berarti Anda mempunyai perhatian khusus pada hidup rohani. Kehidupan rohani adalah salah satu hal terpenting dalam hidup kita. Dalam usia Anda yang terhitung muda, Anda bertanya tentang sesuatu yang mendalam sesuai dengan usia Anda sebagai anak muda. Semoga jawaban saya memenuhi harapan Anda dan cocok dengan situasi Anda saat ini.

Kaum muda sangat akrab dengan aktivitas suara. Pendengaran menjadi pintu untuk bersentuhan dengan dunia luar. Pelajaran sekolah, kuliah, teman-teman, acara bersama, rekreasi, hobi, dan hal-hal baru yang diterima pada umumnya diterima dari pendengaran. Anda dan teman-teman muda jauh lebih mudah belajar melalui pendengaran. Tidak heran jika Anda, seperti teman-teman pada umumnya, juga mengalami kemudahan dalam beriman melalui aktivitas ini.

Dalam Gereja Katolik, suara-suara bukanlah sesuatu yang dilarang atau dijauhi. Sebagai orang Kristiani, kita terbiasa menyanyi, bermazmur, berkidung, dan membuat paduan suara. Memang pada umumnya lagu dalam Gereja Katolik teratur dan rapi. Akan tetapi, persoalan jenis lagu tidak menghalangi orang untuk beriman dengan lebih mendalam. Dalam setiap lagu, ada lirik yang akan sangat mempengaruhi isi dan pesan yang berguna, serta mengarahkan kita pada iman atau sebaliknya.

Mari kita cermati dari dekat, apa yang sedang Anda alami, sebagai orang Katolik di usia muda. Kita tidak dapat “pukul rata” semua kasus dengan satu kacamata orang dewasa saja. Segala sesuatu dapat dilihat dari buahnya. “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” (Mat 7:16). Kemasan memang tidak menentukan isi. Masalahnya barangkali adalah apakah itu sesuai dengan citarasa liturgi atau tidak.

Untuk pribadi seusia Anda, saya percaya Anda juga ingin mengalami pertumbuhan iman, bukan hanya ingin memaksakan apa yang dianggap paling menyenangkan. Hidup beriman tidak hanya ditentukan dengan apa yang kita sukai, tetapi juga ditentukan oleh apa yang kita persembahkan, sehingga kita bertumbuh. Jangan khawatir, Anda tidak dituntut untuk melakukan hal-hal yang terlalu besar. Cukuplah jika Anda mau menyeimbangkan hasrat bernyanyi lagu-lagu “ngebeat”, dengan lagu-lagu yang lebih “slow” atau tenang.

Tentu saya tidak ingin mengarahkan Anda menjadi “orang lain”. Anda tetaplah anak muda yang sedang mencari Tuhan. Carilah Tuhan di dunia dengan cara realistis. Anda berada di dalam situasi di mana tidak selamanya ada suara musik keras, bukan? Nah, karena realitas seperti itu, tentu akan lebih cerdas jika Anda juga melengkapi diri dengan kemampuan menemukan Tuhan juga ketika tidak ada suara musik rock, metal dan jazz, serta berada dalam keheningan. Keheningan dan keteraturan lagu membawa kita pada cara Tuhan memikirkan hidup kita.

Meskipun nampaknya membosankan, tetapi suara-Nya justru lebih besar ketika keheningan melanda kita. Jangan takut, karena keheningan juga memberitahu keadaan dan perasaan kita yang sebenarnya. Mungkin kata-kata ini belum Anda mengerti, tetapi percayalah, selalu ada kebaikan dalam hal baru. Tidak menghilangkan yang lama, tetapi melengkapi dengan hal yang belum Anda sukai. Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*