Artikel Terbaru

Gaya Hidup Digital

Gaya Hidup Digital
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pertemuan para praktisi sumber daya manusia (SDM) beragama Katolik beberapa hari yang lalu membahas “gaya hidup digital”. Narasumber utama merupakan praktisi bisnis digital dan salah satu deputi di sebuah kementerian. Sebenarnya pembicaraan lebih menyoroti pemanfaatan digital secara sehat untuk berbagai kehidupan. Dalam bahasa sederhana, tema mengacu kepada “bagaimana penetrasi digital yang luar biasa tetap dalam koridor iman Katolik?”

Data yang disajikan narasumber diskusi menarik dianalisa. Pada era digital ini, terjadi mindset framing atau pembentukan pola pikir yang sengaja dibuat para pengelola media digital. Lebih menantang lagi, pembentukan pola pikir ini nyaris dilakukan semua media digital yang sudah memiliki reputasi tinggi. Goreng-menggoreng informasi dan melihat sisi “berbeda” ketika narasumber mengeluarkan pendapat, sudah jamak terjadi.

Sebuah media digital berafiliasi dengan jaringan internasional dan memiliki reputasi tinggi, baru beroperasi di Indonesia. Pada saat bersamaan, Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi baru saja melantik Menko Kemaritiman Rizal Ramli. Sebagai mantan aktivis yang terkenal vokal, Rizal Ramli menjadi media darling. Tingkah laku dia disorot, omongan dia dinantikan. Saat mengunjungi sebuah lembaga pemerintahan, Rizal Ramli berbicara tentang revolusi mental. Langsung saja, media digital ini mengunduh berita dengan judul bombastis “Rizal Ramli menilai, revolusi mental yang dikampanyekan Jokowi hanya omong kosong karena praktik KKN masih terjadi.” Padahal selama berbicara, Rizal Ramli sama sekali tidak mengatakan pernyataan tersebut. Intepretasi si wartawan alhasil dijadikan kepala berita guna meraup pembaca sebanyak-banyaknya.

Saat bersamaan, Presiden Jokowi mengeluarkan paket ekonomi, di mana salah satu paket itu menyoal tentang miras. Apa yang kemudian muncul di media digital yang juga dikelola orang-orang yang memiliki reputasi tinggi di dunia jurnalistik? Judul dan isi yang bombastis. Ditulis dengan judul besar, “Paket Kebijakan Jokowi Kembali Bebaskan Miras Beredar di Mini Market.” Padahal paket tersebut tetap melarang miras dijual di mini market. Hanya beberapa mini market dengan kriteria khusus yang diperbolehkan menjual miras.

Pembentukan pola pikir melalui media digital sudah terjadi. Pola ini dikerjakan dengan cara yang masif, terencana, dan dikemas meyakinkan. Ia dilakukan dengan berbagai alasan serta kepentingan. Pelakunya, bukan sekadar media abal-abal yang tidak jelas pengelolanya. Media digital besar dengan penjaga rubrik yang memiliki reputasi tinggi dalam bidang jurnalistik, tidak luput menyebarkan berita bombastis yang sering berseberangan dengan kenyataan.

Lebih hebat lagi, masyarakat Indonesia yang meloncat dari budaya tutur bermigrasi ke budaya digital tanpa sempat melewati budaya membaca, sering meminggirkan etika dan kewarasan pola pikir. Berita-berita bombastis tanpa fakta dioper dan digoreng melalui media sosial. Jadilah sampah itu berbau semakin menyengat. Hal itu berbahaya, karena akan mempengaruhi pola pikir!

Bagaimana kiat memanfaatkan teknologi digital sehingga gaya hidup digital yang kita jalani menyehatkan? Tidak sederhana menjawab. Bagi pribadi-pribadi yang dibesarkan dalam budaya membaca, mereka jauh lebih beruntung, karena cenderung tak terkena gegar digital ketika dunia ini hadir dengan masif dalam seluruh sendi kehidupan. Hanya saja pemilik budaya membaca ini menjadi warga minoritas.

Terlepas dari besar dalam tradisi membaca atau tidak, memanfaatkan media digital menjadi sehat diperlukan dua tindakan utama. Pertama, menjaga kecerdasan sehingga mampu memilih dan memilah informasi bagus dan bermanfaat atau kebalikan. Kedua, mempraktikkan teori lama yang tidak tergerus waktu; ketelitian dan kecermatan. Satu roh dunia digital adalah kecepatan. Boleh kita memakai idiom ini, namun alangkah indah apabila kecepatan ini tetap dikawal dengan ketelitian dan kecermatan.

A.M. Lilik Agung

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*