Artikel Terbaru

Tato Bunda Maria di Lengan

Tato Bunda Maria di Lengan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh Konsultasi Keluarga, sebagai Legioner (Legio Mariae) di sebuah Paroki di Jakarta, saya dan keluarga punya devosi khusus kepada Bunda Maria. Saban hari, kami selalu berdoa Salam Maria untuk mengawali dan mengakhiri kegiatan harian kami. Ternyata, devosi kami ini ditiru oleh anak kami, tetapi dengan cara yang berbeda. Anak kami menato gambar Bunda Maria di lengannya. Padahal ia seorang guru di sebuah sekolah. Saya bingung dengan anak kami. Ketika ditanya, ia beralasan, “Kan tato Bunda Maria bukan Maria lain kan?” Akhirnya, kami putus asa dan membiarkanya. Apakah tato Bunda Maria di tubuh itu dosa? Apakah devosi kami benar-benar bermakna di mata Tuhan dengan kelakuan anak kami? Terima kasih.

Juanita, Bekasi

Ibu Juanita yang baik, pengalaman Ibu bersama anak adalah pengalaman berkatekese. Kita perlu memberi pengertian dengan bijaksana kepada anak yang meskipun sudah dewasa, tetapi belum benar-benar mendalami iman sebagai bagian dari keyakinan dan landasan hidup. Ia mungkin bahkan menganggap bahwa agama adalah status dan label saja dalam hidup ini.

Seorang yang menerapkan imannya secara kurang tepat mengindikasikan ketidaktahuannya akan penerapan ajaran yang wajar dan pantas. Membuat tato barangkali dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Katolik dan ingin dikenal sebagai orang Katolik melalui gambar tato itu. Identitas yang ditempelkan semacam pengenalan dan bahkan barangkali kebanggaan bagi si pemakai tato.

Saat ini, tato yang berkaitan dengan iman melanda banyak budaya anak muda. Mereka menggunakan gambar-gambar suci untuk mengekspresikan diri. Salah memang, tetapi karena banyak dilakukan menjadi suatu budaya bagi mereka. Saya kira ini yang terjadi pada anak Ibu.

Sekurang-kurangnya, anak Ibu tidak pindah agama. Ini bukan hiburan saja. Ia hanya kurang tepat, menurut kita, mengekspresikan imannya melalui hal yang kurang pantas menurut Ibu.

Barangkali jawaban anak Ibu itu dapat kita anggap sebagai indikasi serius bahwa ia memang bangga sebagai orang Katolik dan mempunyai penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Pengertian akan hal ini baru dapat dipastikan sesudah kita melihat ia menerapkan kepercayaan itu dalam hidup sehari-hari.

Saya lebih ingin mengusulkan agar Ibu jangan terus-menerus memarahinya. Saya khawatir, relasi Ibu dengan anak menjadi hambar dan bahkan rusak karena terus-menerus menegurnya. Tato bukan hiasan yang mudah dihapus. Itu menetap secara permanen. Lebih baik memberi peneguhan bahwa iman itu pertama-tama harus kelihatan dalam praktik hidup. Bunda Maria yang sangat suci itu kuat, tabah, dan tangguh imannya. Katakan padanya agar ia meniru teladan Maria yang ia kagumi itu.

Mari menciptakan suasana yang akrab terlebih dahulu sebelum mengajarkan iman. Iman tanpa perbuatan memang tidak ada artinya (bdk. Yak.2:26). Jika relasi Ibu dengan anak menjadi baik, barangkali harapan Ibu agar anak menghormati imannya, akan dapat tersampaikan dengan lebih mudah, karena disampaikan dalam situasi “damai” dan penuh persaudaraan.

Sebagai orangtua, kita harus benar-benar memahami gejolak kawula muda. Saya yakin, maksud setiap orang baik, hanya sering kurang pengetahuan dan kurang pengertian membuat seseorang menjadi kurang tepat menjalani hidupnya. Sebagai orangtua, Ibu telah berusaha memberi contoh yang baik, teruskanlah itu dan berteguhlah untuk mempertahankan yang Ibu imani. Sekarang hanya soal penerusan dan keteladanan.

Pesan saya, jangan takut melawan arus, teruskan hal yang baik, meskipun tampaknya untuk anak zaman, hal itu tidak “trendy”. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (bdk. Mat.10:16). Sampaikan dengan cerdas dan jangan kasar, apalagi marah. Dengan cinta kasih keibuan, saya yakin Ibu akan dapat menyentuh hati anak Ibu dengan baik. Sesuatu yang baik perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan baik. Selamat mencoba dan Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 10 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*