Artikel Terbaru

Pacaran dengan Mantan Frater

[catholicmatch.com]
Pacaran dengan Mantan Frater
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya seorang pemudi, aktivis Mudika. Usia saya saat ini 26 tahun. Dua tahun yang lalu saya berhasil menyelesaikan studi S1 Sastra Inggris dengan prestasi cukup membanggakan. Sebulan setelah diwisuda, saya mengikuti tes penerimaan CPNS. Puji Tuhan, saya diterima dan saat ini saya ditugaskan di Dinas Pariwisata. Saya sangat bersyukur atas semua karunia Tuhan dalam hidup saya. Rasanya hidup saya senantiasa bergulir penuh kemudahan. Tentang calon jodoh, saya juga dipertemukan dengan seorang pemuda (sebut saja namanya SM) yang sejak SMP memang saya kagumi.

Dulu, dia adalah kakak kelas dua tahun di atas saya. Sumpah mati, saya sangat mencintainya. Hanya saja, tentang hal ini saya menghadapi problem yang cukup pelik: dia kebetulan mantan frater. Rasanya makin hari makin banyak umat di paroki saya yang memandang sinis kepada kami. Cukup santer beredar gosip bahwa saya yang menyebabkan SM keluar dari Seminari Tinggi (SM keluar dari seminari, tiga bulan setelah selesai menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP).”Saya pribadi merasa, menjadi pastor ternyata bukan panggilan saya…,” begitu pengakuan SM kepada saya. Saya jalan bareng dengan SM, setahun setelah dia keluar dari seminari. Sejujurnya, saya sama sekali tidak terlibat dalam proses keputusan SM keluar.

Dulu, tiga belas tahun yang lalu, ketika saya tahu SM masuk Seminari Menengah, saya ”tutup buku” untuk tidak lagi memikirkannya. Saya ingat persis waktu itu, perasaan saya memang hancur lebur. Enam hari lamanya saya mengurung diri di kamar. Pada hari ketujuh saya ke Gua Maria Sendangsono untuk berdoa mohon kekuatan dan berserah pasrah pada-Nya. Di akhir doa, saya membakar surat ucapan ”Selamat Paskah” yang sedianya mau saya kirimkan ke SM. Kobaran api yang lembut segera memusnahkan surat itu. Sejak itu, tak pernah sekalipun saya mencoba menghubungi SM. Bagi saya, SM sudah dipilih Tuhan untuk menjadi ”penuai gandum”di Kerajaan Tuhan. Tiga bulan lalu, secara tak terduga saya bertemu kembali dengan SM di suatu acara lomba paduan suara. Saya baru tahu kalau dia tidak lagi berstatus frater.

Satu minggu setelah perjumpaan itu, SM datang ke rumah. Lalu, pertemuan demi pertemuan berlanjut setiap Sabtu sore. Dan, saat ini sudah memasuki bulan ketiga. Namun, saat ini saya merasa seperti ’terbelah’ dalam pusaran dua perasaan yang saling membelit. Di satu sisi, saya sangat bahagia dipertemukan kembali dengan seseorang yang pernah (dan masih sangat) saya kagumi. Di sisi lain, menyusup rasa bersalah, jangan-jangan memang aku yang menyebabkan SM gagal menjadi pastor… Jika demikian, saya mengkhianati Tuhan (Tetapi, sungguh, tidak pernah saya meminta atau mempengaruhi SM keluar dari seminari. Sekalipun saya belum pernah menghubungi SM, sejak dia masuk seminari).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*