Artikel Terbaru

Lectio Divina: SMS dari Allah

Women Bow And Pray
Lectio Divina: SMS dari Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comLectio Divina adalah metode pemahaman Kitab Suci secara kelompok. Metode ini ditulis oleh rahib Guido untuk saudaranya, Gervasius. Guido memaparkan empat tahap pemahaman Kitab Suci, yang disebut “Tangga ke Surga” (Carlos Mesters OCarm, 2005).

Makna kata “Lectio Divina” adalah bacaan Ilahi atau bacaan Kitab Suci. Dalam Lectio Divina, kita belajar memahami pesan Kitab Suci berkelompok dalam doa. Jadi, berdoa sekaligus studi; atau studi dalam suasana doa. Perlu kesadaran mendalam, tak ada pemahaman yang tepat tentang pesan Kitab Suci, tanpa bimbingan Roh Kudus (bdk Yoh 16:13); dan tanpa Dia, tak seorang pun dapat berdoa dengan tepat (bdk Rom 8:26). Maka sebelum kita masuk ke dalam tahap-tahap Lectio Divina, doa atau nyanyian Roh Kudus menjadi persiapan penting.

Tahap pertama, lectio, adalah tahap pembacaan Sabda. Saat teks Kitab Suci dibacakan, kita mendengarkan Tuhan bersabda. Sikap pendengar yang baik adalah duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (bdk Luk 10:38-42). Hal itu berarti membuka hati dan budi dengan sikap iman. Tahap ini disebut “menyendok makanan”, seperti gambaran yang diberikan Yesus sendiri, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 4:34).

Tekniknya, teks dibacakan minimal tiga kali dengan ritme makin lambat. Teks mesti dibacakan dengan bersuara, supaya didengar telinga dan berkontak dengan suara hati. Tiap usai pembacaan, diselingi saat hening. Hanya dalam keheninganlah, Sabda Allah bergema keras dan menusuk tajam. Inilah saat “berbagi suara” untuk menggemakan Sabda.

Tahap kedua, meditatio, tahap menyimpan Sang Sabda dalam hati dan merenungkan-Nya, seperti Bunda Maria (bdk Luk 2:51). “Merenungkan” berasal dari Bahasa Yunani “sim balei”,yang berarti menempatkan satu hal di samping yang lain. Dalam meditatio, hal ini berarti menyejajarkan teks-teks yang saling berkaitan untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi. Penemuan kebenaran tersembunyi ini hendaknya dirumuskan dalam satu kalimat pendek, lalu diterapkan pada hidup Gereja dan diri kita sendiri.

Konkretnya, orang bertanya kepada dirinya, “Pesan apa yang Kau kehendaki bagi diriku melalui sabda-Mu ini, ya Allah?” Jadi tahap meditatio adalah tahap mempertemukan Sabda Allah dengan hidup Gereja dan diri sendiri. Dalam ilmu penafsiran, tahap meditatio ini disebut refleksi teologis.

Saat menemukan kebenaran tersembunyi dan merumuskannya dalam pesan singkat itulah, kita sedang membuka SMS (short massage service) dari Allah. Penemuan kebenaran tersembunyi itu perlu di-sharing-kan. Tahap meditatio digambarkan seperti “mengunyah Sabda”. Betapa nikmatnya Sabda, yang menjadi makanan Yesus itu. Manusia hidup bukan dari makanan saja, tetapi dari setiap Sabda yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

Tahap ketiga, oratio, tahap doa. Setiap peserta sebaiknya diberi kesempatan berdoa dengan menggunakan kata-kata dari Sabda yang telah direnungkan. Doa itu bisa berupa pujian, mohon ampun, atau pernyataan iman, tergantung keadaan kita pribadi. Dala oratio, kita diajak menyapa Allah sebagai “Bapa”, dan berbicara dengan-Nya sebagai sahabat. Sebaiknya tahap ini dimahkotai dengan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri, Bapa Kami.

Tahap keempat, contemplatio. Inilah tahap sukacita. Allah menganugerahkan sukacita mendalam bagi orang yang terbuka, tekun, rendah hati, dan penuh iman merenungkan sabda-Nya. Orang yang mencapai tahap ini diberi rahmat melihat segala persoalan hidup dengan mata dan hati Allah, serta punya hati dan perasaan seperti Kristus (Ef 2:5). Jika mencapai tahap ini, kita tak hanya berbagi “suara” untuk menggemakan Sabda(lectio), atau berbagi pemahaman pribadi tentang Sabda (meditatio), atau bahkan berbagi jawaban pribadi terhadap Sabda (oratio); tapi sudah berbagi hidup yang mengalir dari penghayatan Sabda, yakni Kristus –Sabda Allah– yang hidup di dalam diri kita (bdk Gal 2:20), semoga.

Adrianus Pristiono OCarm

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*