Artikel Terbaru

Kasih Kerahiman

Kasih Kerahiman
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Andrea Tornielli, seorang Vatikanista Italia bertanya kepada Paus Fransiskus, “Mengapa tahun ini dijadikan sebagai Tahun Kerahiman?” Dijawab oleh Paus, “Ya, saya yakin bahwa inilah suatu masa kerahiman. Gereja sedang memperlihatkan sisi keibuannya (maternal side); wajah keibuannya (motherly face), kepada kemanusiaan yang terluka. Gereja tidak menunggu sampai orang yang terluka mengetuk pintu Gereja. Gereja justru mencari mereka di jalan-jalan, mengumpulkan mereka, merangkul mereka. Gereja memberi perhatian kepada mereka. Gereja membuat mereka merasa dicintai.” (Pope Francis, 2016. The Name of God is Mercy. Milano: Edizione Piemme, hal 6)

Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa Allah tidak pernah dinamakan atau disapa dengan gelar “Ibu”. Dalam Alkitab, Allah disapa dengan gelar “Bapa” untuk mengungkapkan keberlainan antara Pencipta dan ciptaan. Allah itu transenden dan berdaulat. Namun demikian, Alkitab pun memakai gambaran atau kiasan Ibu untuk belarasa Allah, khususnya dengan memakai kata “Rahim”. Rahim adalah “ungkapan paling konkret untuk saling terjalin yang mesra di antara dua makhluk yang bergantung dan tidak berdaya, yang seluruh keberadaannya, badan dan jiwanya, mendekap dalam Rahim sang Ibu” (Yesus dari Nazaret, 151).

Dalam keluarga, ayah dan ibu memberikan kasih kepada anak-anak mereka cara memberikan kasih itu memang berbeda, tetapi justru saling melengkapi. Sebagai laki-laki, ayah cenderung lebih rasional dan tegas. Sementara itu, sebagai perempuan, ibu cenderung lebih emosinal, simpati empati dengan hati yang intuitif. Ingatlah, akal budi tanpa emosi akibatnya terasa dingin. Sebagai perempuan, ibu berbicara dengan ayah tentang masalah-masalah dalam rangka menjadi lebih akrab, bukan semata-mata mencari penyelesaian. Bagi seorang perempuan, membagi kesulitan dengan orang lain merupakan tanda cinta dan kepercayaan, bukannya beban. Perempuan memiliki karakter keibuan yang diwujudkan dalam sikap mendampingi dan ditunjukkan dengan membagi-bagikan pengalaman hidupnya bagi orang lain yang ia percaya.

Dengan latar belakang pemahaman psikologi perempuan, kita dapat memahami makna kiasan keibuan Allah dalam Alkitab. “Seperti seorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem” (Yes. 66:13). “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga dia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes. 49:15). “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menemukanku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku yang dahsyat dan ajaib….”(Mzm. 139:13-16). Jelaslah dengan kiasan Ibu, mengasihi mau diungkapkan bahwa kita memang berada dalam rangkulan, pelukan dari kasih Allah yang Maharahim. Seperti Ibu mengasihi anak-anak dengan hatinya, demikian juga, kita disayangi dengan hati Allah (Misericordia Dei).

Kardinal Walter Kasper, Presiden Emeritus Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristiani, menulis buku mengenai kerahiman bukan dengan cara-gaya metafisik yang memahami Allah penuh kuasa dan Maha Mengetahui, melainkan berdasarkan Alkitab dengan menyoroti kerahiman sebagai inti dari pewartaan Injil dan kehidupan Kristiani (Kasper, 2014: Mercy).

Gereja bukan hanya sebagai Guru, tetapi juga sebagai Ibu (Bapa Suci Yohanes XXIII dalam Ensiklik Mater et Magistra, yang dipromulgasikan pada 15 Mei 1961). Dengan demikian, Gereja adalah Sakramen Kerahiman. Kasih kerahiman menerangi wajah Gereja yang diungkapkan melalui sakramen-sakramen, terutama Sakramen Rekonsiliasi. Sebagai buahnya diwujudkan dalam pelbagai karya kasih, komunitas dan setiap pribadi.

RD Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*