Artikel Terbaru

Mari Menuju Bapa

Pemakaman Katolik.
[HIDUP/Y. Prayogo]
Mari Menuju Bapa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comUpacara paling utama di seputar kematian adalah Misa Arwah. Gereja berkomitmen melayani semua tanpa pandang bulu.

Gereja Katolik punya khazanah melimpah mengenai pelayanan bagi orang meninggal. Misal, kekayaan liturgi pada upacara pemberkatan jenazah, penutupan peti, dan pemakaman atau kremasi. Kekayaan liturgi seputar kematian ini sarat makna. Selain itu, Gereja menggariskan, “… mohon bantuan rohani bagi mereka yang telah meninggal dan menghormati tubuh mereka serta sekaligus memberikan penghiburan berupa harapan bagi yang masih hidup…” (KHK Kan.1176 §2).

Ketegasan itu menunjukkan, Gereja tetap memberikan pelayanan bagi orang meninggal dan menghormatinya seperti orang hidup. Keluhuran manusia yang di ciptakan sebagai citra Allah, tercermin dari seluruh pribadi, badan, jiwa, dan rohnya (1Tes 5:23). Di satu sisi, pelayanan Gereja hendak menyatakan persekutuan aktif dengan orang yang sudah meninggal. Di sisi lain, Gereja mengundang jemaat berhimpun dalam upacara di seputar kematian supaya mengambil bagian di dalamnya dan mewartakan kehidupan abadi (bdk. KGK no.1684). Maka, upacara di seputar kematian tak melulu menjadi penghiburan bagi mereka yang ditinggalkan. Upacara ini juga menjadi untaian kasih dan doa bagi kesejahteraan arwah yang telah dipanggil Tuhan.

Kematian Kristen
St Theresia Kanak-Kanak Yesus pernah berkata, “Aku hendak melihat Allah, dan untuk melihat Dia, orang harus mati.” Jelas bahwa dalam kacamata iman Katolik, kematian bernilai positif. Kematian bukanlah hal mengerikan karena meniadakan segalanya. Kematian justru dilihat sebagai pintu masuk ke dalam hidup abadi.

Sikap iman yang sama diungkapkan St Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Aspek baru memaknai kematian dalam iman Katolik sebenarnya terkait dengan Sakramen Baptis. Dengan Baptis, orang secara sakramental telah “mati bersama Kristus”, supaya dapat memasuki hidup baru. “… Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya” (KGK No.1010).

Kematian badani adalah berakhirnya kehidupan duniawi. Di hadapan mautlah teka-teki kenyataan manusia mencapai puncak (GS art.18). Namun bagi mereka yang “mati bersama Kristus”, kematian adalah keikutsertaannya bersama Kristus supaya dapat mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya (bdk. KGK no.1006). Yesus telah mengubah kematian, karena Dia telah mengalaminya dalam ketaatan bebas pada kehendak Bapa-Nya. Dengan demikian, ketaatan-Nya itu telah mentransformasi kutukan kematian menjadi berkat dalam kebangkitan-Nya yang mulia.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*