Artikel Terbaru

Alam Roh

Alam Roh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKakak saya sempat dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, tetapi kemudian hidup kembali. Dia menceritakan banyak hal tentang pengalaman berada dalam kematian sejenak itu. Apakah cerita itu boleh dipandang sebagai penyingkapan tentang alam kekal yang sesungguhnya atau mengintip alam roh? Bagaimana Ajaran Gereja tentang hal ini?

Rafael Nugroho Harmanto, Solo

Pertama, tentang kematian kita bisa membedakanan antara kematian klinis dan kematian biologis. Ciri-ciri kematian klinis adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan, misal detak jantung, gelombang pernafasan, kesadaran, serta aktivitas gelombang otak. Alat-alat kedokteran tidak mampu mendeteksi tanda-tanda kehidupan itu lagi sehingga orang yang bersangkutan dinyatakan sudah meninggal dunia. Kematian biologis adalah berhentinya seluruh kehidupan dalam diri manusia yang ditandai dengan mulai membusuknya tubuh manusia. Kematian yang dirujuk dalam pertanyaan disebut kematian suri, yaitu keadaan di antara kematian klinis dan kematian biologis. Yang bersangkutan sudah mengalami kematian klinis, tetapi sebelum terjadi kematian biologis, orang itu hidup kembali.

Kedua, cerita orang-orang yang mengalami kematian suri mempunyai banyak kemiripan. Misal mereka sadar bahwa sudah meninggal dunia, bahkan banyak yang melihat jasadnya sendiri tertidur dan ditangisi anggota keluarga dan para sahabat. Banyak di antara mereka yang dibawa masuk ke dalam terowongan gelap, tapi pada ujungnya ada sinar terang. Mereka juga bertemu dengan anggota-anggota keluarga yang sudah meninggal, yang menyambut mereka. Banyak hal-hal indah yang mereka alami, seperti taman, istana, kamar yang mewah, pesta meriah, mendengarkan nyanyian para malaikat, dan berbagai ungkapan kebahagiaan dan kedamaian. Tetapi karena satu dan lain alasan, mereka harus kembali masuk ke dalam jasad mereka dan hidup kembali di dunia.

Pengalaman mati suri tak bisa dipandang sebagai “mengintip alam roh”, seolah-olah apa yang dialami itu adalah realitas sesungguhnya dari alam roh di balik kehidupan ini. Tidak bisa juga dikatakan bahwa pengalaman itu adalah contoh tentang hidup kekal itu berlangsung. Tidak semua pengalaman orang yang mati suri itu sama, bahkan ada pengalaman yang bertentangan dan sulit dipadukan. Maka tidak bisa dikatakan secara pasti bahwa pengalaman mati suri itu mencerminkan secara riil keadaan neraka atau surga.

Ketiga, bisa dimaklumi adanya keingintahuan tentang kehidupan di balik kematian. Tetapi keingintahuan ini haruslah kita pasrahkan kepada Tuhan. Yesus mengingatkan agar kita berjaga-jaga selalu (Mat 24:42; 25:13; Mrk 13:35). Apa yang diajarkan oleh “kesaksian Musa dan para nabi” (Luk 16:29) dan ditegaskan kembali dalam Perjanjian Baru kiranya sudah memadai untuk mempersiapkan diri kita. Jika kita tak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, maka kita juga tidak akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati (bdk. Luk 16:31).

Apakah gambaran Yesus tentang neraka, di mana ada kertak gigi, api dan ulat, mencerminkan keadaan neraka yang sesungguhnya?

Laurentia Sophie, Malang

Gambaran Yesus tentang neraka tak boleh dimengerti sebagai informasi tentang keadaan neraka yang sesungguhnya. Ucapan Yesus tidak dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang tempat dan keadaan neraka, tapi lebih merupakan peringatan dan ancaman kepada orang-orang yang tak mau mendengarkan seruan Yesus dan tidak mau bertobat. Katekismus mengajarkan: “Pernyataan-pernyataan Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang neraka merupakan peringatan kepada manusia, supaya mempergunakan kebebasannya secara bertanggung jawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya. Semua ini juga merupakan himbauan yang mendesak supaya bertobat” (KGK 1036).

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 6 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*