Artikel Terbaru

Suami Menginap di Kantor

Suami Menginap di Kantor
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, saya mempunyai suami yang baik, bertanggung jawab, dan pekerja keras. Hanya batin saya kurang sreg, suami kerap menginap di kantor. Memang, jarak rumah kami dengan kantornya amat jauh. Sekali perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam. Selain itu, pekerjaan suami sebagai wartawan, kadang waktunya sulit diprediksi. Ia bisa amat pagi atau malam bertemu dengan narasumber atau mengejar berita. Belum lagi saat deadline.

Saya kasihan jika ia harus pulang-pergi dari rumah ke kantor, atau sebaliknya. Saya ikhlaskan dia menginap. Tapi saat bersamaan, saya ingin dia ada di rumah, apalagi kami punya anak kecil dan menanti kelahiran anak kedua. Mohon masukan dari pengasuh.

Yustina Hendrawati, Jakarta

Bu Yustina, ada beberapa pekerjaan yang memang kadang tak mempunyai waktu kerja yang pasti, bahkan tempat kerja juga berpindah-pindah sehingga waktu luang para pekerja semacam ini memang tak menentu dan sulit untuk diprediksi. Hal ini tak hanya berpengaruh kepada kehidupan pekerja, melainkan juga berdampak kepada kehidupan keluarga, pertemanan, dan interaksi sosial di lingkungan.

Setiap orang dewasa memiliki berbagai peran dalam kehidupan, sebagai pekerja atau pencari nafkah bagi keluarga, suami untuk istri, ayah untuk anak, dan tetangga bagi orang-orang di sekitar. Dalam kondisi ini, supaya semua peran bisa berjalan dengan baik, pembagian waktu untuk berbagai peran sosial menjadi penting.

Bila pembagian waktu kurang baik, ada peran yang tidak dijalani atau terjadi konflik peran. Hal inilah yang dialami oleh Ibu Yustina. Konflik semacam ini memang membingungkan karena semua pilihan berisiko memengaruhi peran lain atau berdampak kurang menyenangkan.

Suami sering pulang berarti waktu kerja menjadi terbatas karena “terbuang” di jalan dan biaya transportasi membengkak, tetapi jika jarang pulang, istri dan si kecil merasa kesepian. Oleh karena itu, sudah cukup bijaksana bila setelah mempertimbangkan berbagai faktor–rumah yang amat jauh, kesehatan, dan sebagainya–istri mengikhlaskan suami untuk kadang menginap di kantor. Artinya, istri mengikhlaskan suami kadang tidak menjalankan perannya di rumah sebagai teman hidup. Ia juga rela menggantikan peran suami sebagai ayah bagi si kecil.

Alangkah baik, bila kebijaksanaan istri juga diimbangi suami untuk mengikhlaskan waktu kerjanya, yaitu dengan memperbanyak waktu di rumah sehingga tidak hanya istri yang merasa menjadi “korban keadaan”, tetapi risiko pekerjaan menjadi tanggungan bersama. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang baik dengan suami.

Istri bisa mengutarakan kerinduannya dan kebutuhan si kecil soal kehadiran suami atau ayah di rumah karena memang yang dibutuhkan oleh keluarga bukan hanya nafkah secara lahir, tetapi juga kebutuhan nafkah batin yang hanya bisa dipenuhi bila suami-istri ada di rumah. Perlu dipertimbangkan pula dampak dari keberadaan suami yang lebih lama di rumah, misalkan finansial. Kemungkinan pendapatan berkurang atau biaya transportasinya meningkat. Pertimbangkan pula penggunaan sarana kerja agar suami bisa bekerja di rumah, seperti internet untuk mengirim berita dan lain-lain.

Hal lain yang juga bisa diubah adalah meningkatkan kualitas interaksi selama suami di rumah. Interaksi dalam keluarga tidak hanya ditentukan oleh kuantitas atau lama waktu bersama, tetapi juga oleh kualitas interaksi selama
kebersamaan berlangsung. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kepuasan akan kebersamaan bisa dengan meningkatkan kualitas selama keluarga bersama, misal dengan makan dan mengurus anak bersama, membersihkan rumah atau melakukan aktivitas lain bersama seluruh anggota keluarga.

Hal ini akan bisa menimbulkan kesadaran bahwa keluarga dan segala aktivitasnya adalah milik dan tanggung jawab bersama, bukan hanya milik istri atau suami. Selamat mencoba untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kebersamaan keluarga.

George Hardjanta

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 6 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*