Artikel Terbaru

Fransiskus Xaverius Teguh: Pencetus Pariwisata Berbasis Nilai

Fransiskus Xaverius Teguh
[NN/Dok.Pribadi]
Fransiskus Xaverius Teguh: Pencetus Pariwisata Berbasis Nilai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMenjadi birokrat ia hayati sebagai panggilan Tuhan, berkontribusi bagi bangsa ini menjadi nafasnya. “Saya sudah mendapat lebih, maka saya harus memberikan lebih.”

Fransiskus Xaverius Teguh didapuk sebagai Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur Pariwisata dan Ekosistem Pariwisata, Kementerian Pariwisata sejak 2015. Setelah mengampu jabatan ini, ia bertugas merumuskan kebijakan-kebijakan yang terkait perencanaan destinasi pariwisata. Misalnya, ke depan direncanakan ada sepuluh destinasi pariwisata prioritas nasional.

“Tugas saya merumuskan bagaimana sebuah kawasan pariwisata dikembangkan. Dimana wisatawan bisa melakukan aktivitas, masyarakat mendapatkan manfaat, dan ekologis terjaga,” ujar peraih predikat Cum Laude program S3 Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Bukan Kebetulan
Frans bercerita, ia tidak pernah memikirkan akan menapaki karier sebagai birokrat. Lulus Seminari Menengah St Yohanes Berchmans Mataloko, Flores-NTT, ia mendapatkan beasiswa dari United Nations Development Programme (UNDP) untuk sekolah di bidang pariwisata. Frans setengah hati menerima tawaran itu. “Sekolah di bidang pariwisata, suatu bidang yang saya tidak tahu sama sekali, apa masa depannya,” ungkap Frans.

Dalam kebingungan itu, ayahnya, Gabriel Antonius Hami, memberikan nasihat untuk menerima tawaran beasiswa tersebut. “Mungkin ini jalan Tuhan untukmu,” kata Frans meniru kata-kata sang ayah.

Di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Frans menempuh pendidikan Diploma Dua lalu melanjutkan Diploma Tiga (D3). “Kami sistemnya begitu, sekolah dulu, baru kerja, lalu sekolah lagi,” jelasnya. Di setiap tahapan itu, Frans lulus dengan nilai memuaskan.

Selesai D3, Direktur STP Bandung mengajukan dua pilihan kepada Frans, mengepalai sebuah bisnis pariwisata atau menjadi dosen. Penawaran dari Direktur STP Bandung itu diketahui Frans dari surat yang dilayangkan kepadanya saat ia pulang ke kampung halaman di Ende.

Seturut nasihat sang ayah Frans kembali ke Bandung dan menerima tawaran menjadi dosen pada 1991. Belum lama mengajar, Frans diutus ke Turin, Italia untuk mengikuti kursus pariwisata. Kembali dari Turin, ia memutuskan kuliah ekonomi di Universitas Padjajaran Bandung.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*