Artikel Terbaru

Sakramen Kerahiman Allah

Sakramen Kerahiman Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPada masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi ini, di paroki kami sangat dianjurkan menerima Sakramen Tobat, sesuai anjuran Bapa Suci Fransiskus. Apakah Sakramen Tobat satu-satunya yang menunjukkan Kerahiman Allah?

Maria Santijayawati Handoyo, Surabaya

Pertama, anjuran Paus Fransiskus itu sesungguhnya tidak menyangkal sakramen-sakramen lain sebagai sarana Kerahiman Allah. Pernyataan itu hendak menonjolkan bahwa Sakramen Rekonsiliasi sebagai perwujudan yang paling jelas dan kongkret tentang Kerahiman Ilahi. Paus Fransiskus mengatakan, “Mengampuni pelanggaran-pelanggaran menjadi ungkapan yang paling jelas dari kasih yang penuh kerahiman” (MV 9). Kerahiman, yang terkait erat dengan pertobatan, mematahkan hukum tabur-tuai. Allah tidak menghendaki kematian orang, tapi menginginkan pertobatan agar ia hidup (Yeh 18:21-23). Sakramen Rekonsiliasi menjadi perwujudan paling jelas tentang Kerahiman Allah.

Kedua, kita harus ingat bahwa setiap sakramen menghadirkan kuasa penebusan Yesus, dan karena itu menghadirkan pribadi Yesus. Yesus Kristus adalah sakramen dasar. Padahal “Yesus adalah wajah kerahiman Bapa.” (MV 1). Melalui kata, perbuatan, dan seluruh pribadi, Yesus “menyatakan kerahiman Allah” (MV 1). “Segala sesuatu di dalam diri-Nya berbicara tentang kerahiman. Tidak ada satupun dalam diri-Nya sama sekali tanpa belas kasihan.” (MV 8). Maka, semua sakramen bisa disebut sebagai Sakramen Kerahiman Allah.

Ketiga, ada empat sakramen yang menonjolkan secara istimewa Kerahiman Allah. Sakramen Baptis adalah “pintu suci” menuju pengalaman akan Kerahiman Bapa yang menyelamatkan kita dari penindasan dosa melalui penghapusan dosa asal dan dosa-dosa lain, serta penyaturagaan dengan Putra-Nya. Semua ini memungkinkan kita mengalami Kerahiman Bapa lebih lanjut dalam sakramen-sakramen lain.

Yesus “melembagakan Ekaristi sebagai peringatan abadi bagi diri-Nya dan pengorbanan Paskah-Nya. Ia secara simbolis menempatkan tindakan tertinggi pewahyuan ini dalam terang kerahiman-Nya. Dalam konteks kerahiman yang sama, Yesus masuk dalam sengsara dan wafat-Nya, sadar akan misteri agung kasih yang akan Ia wujudkan di kayu salib.” (MV 7).

Sakramen Pengurapan Orang Sakit menghadirkan kuasa Kerahiman Bapa yang menyembuhkan orang-orang sakit melalui Putra-Nya, seperti ketika Yesus berkeliling di Israel dulu. Sakramen ini menyatakan Kerahiman Allah “yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu” (Mzm 103:3; MV 6). Sakramen ini menunjukkan realitas kerahiman Allah yang nyata.

Sakramen Rekonsiliasi menonjolkan kerahiman itu secara khusus, tetapi bukan satu-satunya, dan menjadi sarana Kerahiman Allah terutama untuk menghapus dosa-dosa yang berat. Sakramen ini menyatakan “sifat seorang Bapa yang tidak pernah menyerah sampai ia telah mengampuni anaknya yang bersalah dan mengatasi penolakan dengan kasih sayang dan kerahiman.” (MV 9).

Keempat, tiga sakramen lain, yakni Krisma, Tahbisan, dan Perkawinan, juga menunjukkan Kerahiman Allah, meskipun dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan keempat sakramen di atas. Sakramen Krisma menyatakan seorang murid sebagai anggota yang sudah dewasa dan diutus untuk melanjutkan misi kerahiman dari Yesus, Sang Guru. “Kita dipanggil untuk menunjukkan kerahiman” karena kita telah terlebih dahulu mengalami kerahiman itu (MV 9).

Kerahiman Allah dalam Sakramen Tahbisan dihayati secara sangat hidup oleh Bapa Suci seperti tercermin dalam moto Bapa Suci, miserando atque eligendo. Karena kerahiman-Nya, seseorang dipilih menjadi pemimpin meskipun ia orang berdosa (MV 8).

Sakramen Pernikahan mencerminkan kasih Allah kepada umat manusia dan juga kasih Yesus kepada Gereja. Dalam relasi kasih antara suami istri, antara orangtua dan anak, anggota keluarga mengalami kasih, pengampunan, penerimaan apa adanya, sehingga dibentuk untuk menjadi pribadi pelaksana kerahiman. Kerahiman disemaikan dan ditumbuhkan dalam keluarga.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 28 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*