Artikel Terbaru

Suami Marah Masakan Istri Asin

Exhausted female needs to make dinner after working day ; Shutterstock ID 241001536; PO: TODAY.com
Suami Marah Masakan Istri Asin
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, salam jumpa dalam Rubrik Konsultasi Keluarga Majalah HIDUP. Saya Maria, 34 tahun, telah menikah dan dikaruniai seorang gadis cantik. Saya mengakui bahwa sebelum saya menikah lima tahun lalu, saya tidak pandai memasak. Sudah berkali-kali saya membaca dan browsing internet untuk mencari cara memasak yang baik. Sudah beberapa kali juga saya mengikuti langkah-langkah yang ditawarkan, tetapi selalu gagal. Akhir-akhir ini suami mulai kelihatan makan di luar rumah karena katanya masakan saya kurang enak dan keasinan. Saya mencoba meyakinkan dia bahwa saya akan belajar lebih bagus lagi, tetapi saat saya masak, kerapkali tidak sesuai dengan selera suami. Apa yang bisa saya buat? Saya sudah kursus memasak untuk suami, tetapi situasinya sama saja. Mohon bantuan. Terima kasih.

Maria, Medan

Ibu Maria yang sangat sayang dengan suami, salah satu pandangan umum tentang kehidupan suami-istri yang ideal adalah kemahiran istri dalam menyiapkan makanan untuk anak-anak dan suaminya. Maka, tidaklah mengherankan jika Anda merasa tidak nyaman ketika suami memutuskan untuk makan di luar rumah, apalagi dengan gunjingan tetangga, saudara atau mertua yang mempermasalahkan Anda tidak dapat memasak. Kemampuan memasak adalah ketrampilan, yang ditambah dengan bakat. Artinya, harus banyak latihan dan memiliki bakat (passion) untuk memasak.

Pada kasus ini, mungkin Anda kurang memiliki bakat memasak atau bisa juga adanya tuntutan suami yang terlalu tinggi akan rasa masakan yang enak. Untuk membantu menyelesaikan masalah, ada beberapa hal yang perlu perhatikan. Pertama, jenis masakan. Apakah masakan yang Ibu masak sudah sesuai dengan selera suami? Anda bisa bertanya langsung kepada suami Anda atau mertua Anda. Ada orang yang suka masakan Jawa/Barat/Cina. Ada kemungkinan jenis masakan yang Anda buat tidak sesuai dengan selera suami. Misalnya, Anda memasak steak, sedangkan kesukaan suami sebenarnya adalah sayur lodeh.

Kedua, belajar memasak dengan Ibu/Mertua/Saudara. Jika sudah berupaya kursus memasak tetapi belum berhasil, tidak ada salahnya Anda mencoba belajar memasak dengan Ibu/Mertua atau keluarga lainnya. Ada beberapa kelebihan dari belajar memasak dengan mereka ini. Masakan ini mungkin sesuai dengan selera suami. Memasak bersama mereka juga bisa langsung dievaluasi kelemahan-kelemahannya sehingga langsung tahu kesalahannya di mana dan tidak perlu mengeluarkan uang kursus memasak. Ketiga, asisten rumah tangga, yakni meminta jasa asisten rumah tangga yang pandai memasak.

Memasak memang menyenangkan bagi orang yang hobi memasak, tetapi bisa juga hal yang menyiksa bagi yang tidak memiliki hobi itu. Apabila semua upaya sudah dilakukan dan tetap tidak berhasil, Anda dapat berembuk dengan suami tentang makanan apa yang dia sukai dan di mana dia biasa membeli. Anda bisa melakukan pembelian makanan sesuai selera suami dan makan bersama suami di rumah atau sekali-kali keluar makan bersama keluarga.

Kadang membeli makanan siap saji secara ekonomis lebih murah dibandingkan dengan memasak sendiri karena dapat menghemat waktu, tenaga dan jumlah yang dibeli dapat disesuaikan dengan keperluan, serta tidak ada makanan yang tersisa. Tentu hal ini dapat dilakukan asalkan harga makanan sesuai dengan kemampuan.

Anda tidak perlu terlalu cemas karena kehidupan berkeluarga tidak hanya perkara makanan saja. Masih ada banyak problem penting lain yang mungkin lebih memerlukan energi Anda dan perlu Anda pikirkan solusinya. Kuatkan hati Anda untuk menerima kritik dari orang lain. Ingatlah bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Sejauh Anda dan suami sepakat dengan bagaimana penyelesaian masalah makanan ini, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Ibu Maria, selamat mencoba resep masakan yang sesuai dengan selera suami atau makan bersama suami dan anak-anak sekalian refreshing. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda dan keluarga.

Dr Kristiana Haryanti M.Si, Psikolog

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 28 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*