Artikel Terbaru

PASMHH Atambua: Rumah Kasih Anak-anak Disabilitas

Anak-anak Panti Hadinan Haklaran bekerja dengan gembira, menyiangi rumput di ladang padi.
[Dok. Panti Hadinan Haklaran]
PASMHH Atambua: Rumah Kasih Anak-anak Disabilitas
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDengan saling melayani, anak-anak penyandang disabilitas ini ditampung dan dididik agar bisa merasakan dihargai dan saling menyayangi.

Merlin dengan suara terputus-putus bernyanyi di hadapan kawan-kawannya dan sejumlah tamu. Semangatnya tidak surut untuk menghibur siapa pun yang mengunjungi Panti Asuhan St Mikael Hadinan Haklaran (PASMHH) Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sesekali ia mengajak kawan-kawannya bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan.

Dalam suasana penuh persahabatan dan persaudaraan, anak-anak disabilitas penghuni panti di kota perbatasan Indonesia Timor Leste ini menyapa para tamu dengan bernyanyi bersama. Suasana penuh keceriaan sungguh terasa, pengunjung akan langsung menyaksikan kegembiraan anak-anak itu.

Saling Menyayangi
Pendirian PASMHH ini bermula dari inisiatif sejumlah guru negeri yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Atambua bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Belu. Mereka ingin membantu anak-anak disabilitas dengan membuka satu panti sederhana. Tujuannya agar anak-anak penyandang disabilitas di wilayah itu tidak harus berjalan jauh dari kampung mereka menuju ke sekolah.

Mereka kemudian menyulap sebuah ruang kelas di gedung SLB menjadi asrama panti. Karena berbagai keterbatasan, terutama tenaga guru untuk mengelola panti, pada 1 Oktober 1988, para guru dan pemerintah menyerahkan panti tersebut kepada para suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) Provinsi Regina Angelorum Timor. Kemudian para suster SSpS memberi nama panti itu dengan nama Hadinan-Haklaran yang berasal dari bahasa Tetun yang berarti “saling menyayangi”.

Nama Hadinan Haklaran lahir dari Blasius Joseph Manek (alm.) yang saat itu menjabat sebagai anggota DPRD Atambua. Kata Blasius, nama itu akan menjadi fondasi bagi anak-anak panti untuk hidup bersama dalam suasana persaudaraan, persahabatan, serta saling menyayangi.

Anak-anak panti angkatan pertama berjumlah 30 orang. Sr Maria Marsela SSpS menjadi suster pertama yang memimpin panti. Setelah ditangani para suster SSpS, panti mulai dikelola menjadi lebih baik. Mereka juga membangun gedung panti yang terdiri dari asrama, ruang doa, aula, kamar makan dan ruang rekreasi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*