Artikel Terbaru

PASMHH Atambua: Rumah Kasih Anak-anak Disabilitas

PASMHH Atambua: Rumah Kasih Anak-anak Disabilitas
1 (20%) 1 vote

Gedung panti dibangun bersebelahan dengan SLB Atambua. Hal ini memudahkan anak-anak panti saat pergi ke Sekolah. Anak-anak panti yang bersekolah di SLB hanya berjalan kaki sekitar 50 meter ke SLB.

Anak-anak PASMHH dilatih untuk saling membantu satu sama lain saat pergi sekolah. Anak yang susah berjalan karena kakinya sakit akan dibimbing oleh anak yang lancar berjalan. “Jarak yang tak jauh membuka peluang kepada anak-anak untuk saling menolong,” kata Sr Klara Aek SSpS yang memimpin panti sejak September 1998.

Di asrama, anak-anak dibiasakan saling melayani dalam hal-hal kecil dan sederhana. Setiap hari anak-anak perempuan bertugas menyiapkan makanan pagi hingga malam. Anak-anak kelas lima SD secara berkelompok bertugas mencuci piring dan membersihkan kamar makan dan kamar mandi. Sementara anak-anak SMP dan SMA memiliki tugas untuk mencuci pakaian, memandikan anak-anak yang kecil, serta menyuapi anak-anak yang tidak mampu makan sendiri. Anak-anak ini juga bertanggungjawab merawat penghuni yang sakit. Mereka semua tinggal di bawah satu atap. Namun, kamar mandi dan kamar tidur dibuat terpisah untuk anak putra dan putri.

Di panti ini anak-anak mengisi waktu dengan bercocok tanam. Pada musim hujan mereka menanam padi di sawah dan jagung di tanah milik panti. Menurut Sr Klara, melalui hal-hal kecil dan sederhana anak-anak dididik untuk saling menyayangi dalam kekurangannya. “Dengan saling melayani, mereka bisa merasakan bahwa mereka berharga dan tidak disingkirkan oleh masyarakat,” kata Sr Klara.

Sr Klara bersama suster-suster SSpS lainnya menerapkan disiplin hidup di panti ini. Anak-anak pun dibiasakan bersikap sopan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Mereka tidak diperbolehkan mengungkapkan kata-kata makian dalam kesehariannya. Mereka dibiasakan untuk mengenakan pakaian yang pantas. Menurut Sr Klara, di setiap Natal dan Tahun Baru, anak-anak akan dibelikan baju dengan warna yang sama. Hal itu untuk menghindari kecemburuan satu sama lain.

Dari Keluarga Miskin
Penghuni panti rata-rata berasal dari keluarga miskin yang tersebar di tiga kabupaten yakni Kabupaten Belu, Malaka dan Timor Tengah Utara. Sr Klara melihat di ketiga kabupaten itu banyak anak-anak yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Tinggal di rumah yang kurang bersih, dan anak-anak tampak kurus karena kurang asupan gizi. Melihat kondisi seperti itu, Sr Klara dan para suster lain akan mendekati orangtua mereka. Mereka membujuk orangtua agar mau menitipkan anak-anaknya di PASMHH. Usaha ini biasa dilakukan pada saat kunjungan pastoral menjelang Natal dan Paskah atau saat Doa Rosario di bulan Maria yaitu Bulan Mei dan Oktober.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*