Artikel Terbaru

Hal Berpantang

Hal Berpantang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDalam hal berpantang, mengapa dianjurkan berpantang sesuatu yang paling kita sukai? Apakah perasaan manusiawi itu sudah sebuah dosa? Bolehkah berpantang hal-hal yang bukan materiil, misal pantang tidak main game?

Maria Lourdes Larasati, Malang

Pertama, olah rohani selama masa Prapaskah harus dimengerti dalam kerangka pertobatan. Bertobat seringkali diartikan berpaling dari diri sendiri dan mengarahkan hati kepada Allah dan sesama. Semua olah rohani mempunyai tujuan akhir, yaitu supaya lebih mencintai Allah dan sesama. Sedangkan obyek olah rohani ialah perasaan suka terhadap hal-hal duniawi yang ada dalam diri kita. Jadi, olah rohani tidak pernah terarah hanya kepada diri sendiri (egoistis), tetapi harus terarah keluar dari diri kita (altruistis), yaitu kepada Allah atau sesama. KHK 1249 merumuskan: “menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dengan lebih setia….”

Kedua, perasaan manusiawi adalah anugerah yang diberikan Allah ketika menciptakan manusia. Kita harus bersyukur mempunyai perasaan-perasaan, misal suka, sedih, senang, takut, dan yang lain. Sebagai anugerah, perasaan itu baik adanya. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kej 1: 31). Seringkali Allah membimbing kita dengan menggunakan perasaan-perasaan yang kita alami. Perasaan takut akan hukuman Allah seringkali mendorong untuk menjauhi dosa. Perasaan sedih dan jijik terhadap dosa mencegah kita tidak jatuh ke dalam dosa yang sama dan meneguhkan untuk bertobat. Perasaan sukacita melayani Allah dan sesama memacu kita semakin bersemangat melayani. Perasaan kasihan terhadap orang yang menderita mendesak kita menolong untuk meringankan beban penderitaan orang tersebut. Jadi, perasaan-perasaan manusiawi itu bukanlah dosa, tetapi suatu anugerah. Allah menganugerahi manusia bukan hanya dengan akal budi, tetapi juga dengan hati yang dapat merasa. Akal budi dan perasaan harus berjalan bersama dan saling mengisi, saling melengkapi.

Ketiga, perasaan-perasaan manusiawi seringkali tidaklah murni, tetapi dipengaruhi kecenderungan ke arah dosa yang ada dalam diri manusia, yaitu konkupisensia (Lat:concupiscentia). Konkupisensia membuat perasaan itu berlebihan, tidak proporsional, bahkan menjadikan yang paling utama dengan mengalahkan nilai-nilai lain. Seringkali perasaan suka itu disertai dengan keterlekatan kepada obyek yang kita sukai, sehingga kita diperbudak dan sulit melepaskan diri. Maka, pantang sesuatu yang kita sukai adalah usaha untuk memulihkan kendali diri dan kebebasan kita, melepaskan keterlekatan yang menindas agar kita bisa lebih mencintai Allah dan sesama. Inilah satu bentuk penyangkalan diri yang diajarkan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salib setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

Keempat, obyek pantang tidak hanya dibatasi hal-hal materiil atau makanan. Obyek pantang ialah hal-hal yang kita sukai, baik makanan maupun kebiasaan perilaku yang cenderung menutup diri dari Allah dan sesama. Maka, bisa dibenarkan jika seseorang berpantang tidak main game atau internet, karena selama ini begitu banyak waktu dihabiskan hanya untuk maingame atau internet, sehingga mengorbankan banyak kewajiban lain. Karena inti berpantang adalah mengendalikan diri, maka bisa juga berpantang dalam arti membatasi diri dengan menentukan sendiri kuota waktu main game atau internet. Ada banyak kebiasaan perilaku lain yang bisa menjadi obyek pantang. Kita mau masuk melalui pintu yang sempit agar kita dapat melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan lebih mencintai Allah dan sesama. Pintu yang sempit itulah yang membawa ke keselamatan.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 21 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*