Artikel Terbaru

Adriana Elisabeth: Inisiator Dialog Papua Damai

Adriana Elisabeth
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Adriana Elisabeth: Inisiator Dialog Papua Damai
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comAdriana Elisabeth tak lelah mengupayakan dialog sebagai jalan penyelesaian konflik di Tanah Papua. Saatnya sikap diskriminasi dibuang jauh-jauh.

Adriana tak pernah menyangka minat di bidang penelitian akan membawa dia jauh ke dalam proses penyelesaian konflik di Tanah Papua. Lebih dari satu dekade, Adriana memeras pikiran dan tenaga turut mewujudkan damai di pulau paling timur Indonesia itu.

Cerita bermula pada 2004. Ketika itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membentuk tim riset untuk mendalami persoalan di Papua. Seharusnya peneliti senior di LIPI kala itu, Muridan Satrio Widjojo yang didaulat jadi koordinator. Namun, karena Muridan harus melanjutkan studi, beralihlah tanggung jawab itu ke pundak Adriana. Kurang lebih empat tahun, Adriana bersama empat rekannya mengadakan riset. Hasil penelitian dipublikasikan dalam buku bertajuk Papua Road Map (2009). Meski sedikit menuai pro dan kontra, justru lewat buku itu lah konflik di Papua terpetakan. Dari hasil riset ini pula Adriana sampai kepada kesimpulan, hanya jalan dialog yang mampu menyelesaikan ketegangan Papua-Jakarta. Hanya lewat duduk bersama dan mulai bicara kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan rasa dengki kepada “Jakarta” bisa disembuhkan.

Promosi dialog
Selang satu tahun setelah buku Papua Road Map diluncurkan, Adriana dan tim aktif menawarkan konsep dialog kepada Presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai jalan menyelesaikan konfik Papua. Namun niat baik tak selalu disambut jawaban positif. Berbagai kalangan, terutama pemerintah pusat, menolak konsep yang diajukan itu. “Banyak pihak menolak keras usulan dialog. Bahkan kami dituduh pro-Papua,” ujar anggota TimAssessment on the Implementation of Democracy and Human Rights in ASEAN ini.

Tapi ia tak patah arang. Dari pintu ke pintu ia coba jelaskan maksud dan tujuan dialog yang ditawarkan. Merasa belum cukup, ia mengajak teman-teman peneliti LIPI membuat konsultasi publik. Tim LIPI turun ke lapangan menemui perwakilan masyarakat Papua dan mengajak mereka duduk bersama. Di situ perwakilan Papua diminta merumuskan persoalan, pandangan, serta harapan. Sembari itu, mereka tetap melobi akses ke Presiden untuk menjelaskan niat luhur itu.

Nyala semangat untuk berdamai dengan Papua tampak berkobar. Presiden setuju, meski dengan syarat. Kata “dialog” diganti dengan istilah “komunikasi konstruktif”. “Saya bilang, silakan saja. Saya tidak pusing soal terminologi. Yang penting kita berkomunikasi. Kalau bicara dalam forum bersama, kita bisa mengurangi rasa perbedaan, kesalahpahaman,” ujar Adriana mengulang jawabannya kepada Presiden kala itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*