Artikel Terbaru

Tahun Suci Kerahiman Ilahi

Tahun Suci Kerahiman Ilahi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMengapa Paus mengadakan Tahun Suci Kerahiman Ilahi? Apakah ada relevansi dengan keadaan dunia saat ini?

Theresia Maria Agustyarini, Malang

Pertama, Paus Fransiskus menyatakan Tahun Suci Kerahiman Ilahi ini sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan keadaan dunia pada saat ini, yang sangat diwarnai kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, pemaksaan kehendak atas nama agama, terorisme, serta materialisme. Pada zaman ini banyak manusia hanya berpusat kepada diri sendiri dan bertindak mengikuti kecenderungan-kecenderungan dosa. Berhadapan dengan dunia saat ini, “Gereja dipanggil untuk memberikan sumbangan khusus dari apa yang dimilikinya” yaitu mewujudkan kehadiran dan kedekatan dengan Allah. Dengan merenungkan Kerahiman Ilahi, kita didorong “mengatasi keterbatasan insani dan tetap bersinar dalam kegelapan dosa.” Dengan Kerahiman Ilahi, kita “dimampukan untuk menjadi lebih pasti dan menjadi saksi Allah dengan lebih efektif lagi.” (Paus Fransiskus pada audiensi umum, 9 Desember 2015).

Tahun Suci Kerahiman Ilahi ini hendak mengalihkan kita dari keterarahan kepada diri sendiri, berubah ke pemusatan perhatian kita kepada Yesus Kristus sebagai wujud kehadiran Allah yang mengampuni. Allah yang Maha Pengampun itu ada di tengah-tengah kehidupan pribadi dan komunitas kita, yaitu dalam kehadiran Yesus Kristus. Dengan kesadaran ini, kita hendak menghayati pengampunan Allah, merasakan manis kehidupan dengan sentuhan kasih Allah, sehingga dunia yang sangat diwarnai kepahitan dan kekerasan dapat diubah menjadi tempat tinggal bersama yang damai dan sejahtera.

Kedua, Tahun Suci Kerahiman Ilahi mengajak kita belajar tentang “apa yang paling berkenan pada Allah” yaitu mengampuni anak-anak-Nya, berbelas kasih kepada kita. Yang menyukakan Allah ialah memaafkan kita dan menjadi begitu berbelas kasih kepada kita yang berdosa ini. Bukan kebencian, bukan balas dendam, bukan kepahitan, tetapi belas kasihlah yang berkenan kepada Allah. Maka, kita diundang membuka hati agar cinta kasih Allah dapat mengisi dan membuat kita bersukacita. Jadi, Tahun Kerahiman Ilahi menjadi saat yang baik untuk belajar tentang “apa yang paling berkenan kepada Allah” yaitu belas kasih-Nya, cintakasih-Nya, kelembutan-Nya, rangkulan-Nya yang mengampuni, dan rasa sayang-Nya. Pada gilirannya, kita juga dapat menjadi saksi yang mempraktikkan dan mewujudkan belas kasih Allah kepada saudara-saudari kita, dan menyalakan semangat pengampunan Allah di dunia ini.

Ketiga, Tahun Suci Kerahiman Ilahi juga menjadi kesempatan memperbarui lembaga-lembaga dan struktur Gereja, agar lebih diresapi dan diwarnai belas kasih Allah, bukan hanya oleh keadilan, ketegasan, dan kejelasan peraturan. Tanpa belas kasih, lembaga dan struktur Gereja hanya akan memperbudak kita. Belas kasih dapat benar-benar membantu kita dalam mendapatkan manfaat rohani dari dunia yang lebih manusiawi. Adalah tujuan Gereja pada Tahun Kerahiman Ilahi ini agar kita sungguh dapat mengalami kembali kegembiraan yang ditemukan dalam diri Yesus, Sang Penggembala yang baik yang datang menyelamatkan kita yang hilang.

Keempat, Tahun Suci Kerahiman Ilahi juga menyadarkan kita akan “sifat sentral” belas kasih dalam hidup dan kerasulan. Ketika belas kasih diabaikan, maka kita akan cenderung memikirkan diri sendiri dan kecenderungan ini pelan-pelan akan semakin berakar dalam diri. Wujudnya ialah pencarian kepentingan, kesenangan, dan kehormatan diri sendiri, dan akhirnya bermuara dalam keinginan memupuk kekayaan pribadi. Seringkali kedosaan ini dibungkus dengan kemunafikan dan kehidupan duniawi. Gelombang cinta diri ini membuat pengampunan dan belas kasih menjadi asing, menumpulkan hati nurani dan mengikis rasa dosa. Sebaliknya, kesadaran akan belas kasih Allah menjaga kesadaran bahwa kita orang berdosa yang membutuhkan pengampunan dan belas kasih Allah.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 14 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*