Artikel Terbaru

Anak Lelaki Suka Pakai Celana Melorot

Anak Lelaki Suka Pakai Celana Melorot
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, saya Johanes dari Jakarta. Saya heran dengan cara berpakaian anak laki-laki kami (15). Tiap kali ibunya membelikan celana yang sedikit lebar, ia tak memakainya. Justru ia lebih senang memakai celana super ketat, robek dengan mata gesper yang besar tapi tidak dikaitkan gespernya. Hal ini membuat celananya sering melorot dan pakaian dalamnya kelihatan. Sudah begitu, bajunya pun ketat dan pendek. Sudah berkali-kali kami melarang memakainya, tapi makin dilarang, makin menjadi-jadi. Apa yang harus kami buat? Pernah saya menyita pakaian-pakaian itu. Yang terjadi, si anak ngambek dan tak masuk sekolah. Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Johanes, Jakarta

Bapak Johanes, keresahan yang saat ini menghinggapi diri Bapak, saya yakin juga dialami oleh hampir sebagian besar orangtua yang memiliki putra atau putri yang menginjak remaja. Kepusingan demi kepusingan sering muncul sejalan dengan makin bertumbuh dewasanya ananda tercinta.

Usia putra Bapak saat ini bisa dikatakan sudah menginjak masa remaja, sebuah masa yang ditandai “badai dan tekanan”. Masa ini juga penuh gejolak, khususnya perkembangan hormonal dan usia psikologisnya. Masa-masa ini adalah masa untuk menemukan jatidiri, menunjukkan eksistensi, serta pengakuan atas keberadaannya. Dalam situasi ini, seorang remaja akan mengikuti kata hatinya yang terkadang tidak bisa dipahami oleh orangtuanya.

Tak jarang, mereka akan berada di luar kebiasaan yang berlaku, semata demi mendapatkan perhatian atau pengakuan atas dirinya. Beberapa menunjukkan perilaku yang nampak tidak lazim untuk orang-orang di sekitarnya. Hal ini sering menimbulkan pertentangan, bahkan permusuhan. Misal, remaja-remaja yang kadang melakukan tindakan yang sering tidak masuk akal atau bahkan menantang bahaya.

Perilaku yang mereka tampilkan biasanya akan mengacu pada satu kelompok tertentu dan biasanya adalah teman-teman dekatnya. Hal ini karena kecenderungan remaja untuk menunjukkan konformitas terhadap teman satu kelompoknya. Jika rekan-rekannya memakai satu mode tertentu, mereka pun akan mengikutinya. Jika mereka tidak mengikuti, akan ada perasaan terasing atau khawatir akan diasingkan oleh kelompok mereka sendiri.

Bagaimana dengan persoalan yang saat ini Bapak hadapi? Tentu ini tidak mudah karena penolakan orangtua akan dianggap sebagai permusuhan dan perilaku yang akan muncul adalah menentang. Berikut beberapa tips yang sekiranya dapat dijadikan bahan perenungan.

Pertama, menentang apa yang dilakukan remaja sama saja dengan menegakkan tali permusuhan. Oleh karena itu yang paling ideal adalah melakukan pendekatan, menawarkan pertemanan.

Kedua, sebagai orangtua, mungkin perlu juga memahami dunia mode remaja saat ini. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa nilai kelaziman orangtua akan berbeda dengan remaja. Memahami akan memberikan bekal pengetahuan bagi orangtua untuk lebih mengenal bahwa dunia remaja saat ini lebih kaya warna dibandingkan saat kita dahulu.

Ketiga, buat kesepakatan dengan ananda mengenai apa yang boleh dan yang tidak boleh. Mungkin ia boleh memakai mode kesayangannya di tempat tertentu, namun tidak pada tempat yang lain seperti gereja atau pertemuan keluarga.

Keempat, jika memang perlu meminta guru atau seseorang yang begitu disegani dan dihormati anak kita, juga bisa dicoba. Saran orang lain biasanya akan lebih dianggap obyektif oleh anak dibanding dengan orangtuanya sendiri. Kita pun tak bisa terlalu berharap banyak karena memang usianya saat ini adalah usia untuk bereksperimen dengan berbagai gaya dan warna demi memenuhi “panggilan eksistensinya”.

Kelima, sebagai orangtua, perlu juga kita memahami dan mencoba masuk dalam dunia remaja saat ini. Menjaga jarak dengan dunia mereka hanya akan membuat kita jauh dari anak. Demikian juga sebaliknya. Mengikuti dinamika remaja akan banyak memberikan pengetahuan sekaligus membuat kita menjadi lebih memahami. Selamat mencoba.

Th. Dewi Setyorini

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 14 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*