Artikel Terbaru

Pembagian Abu Kremasi

HIDUPKATOLIK.comAda santo-santa yang bagian tubuhnya disimpan secara terpisah dari tubuh utama. Misal tangan kanan St Fransiskus Xaverius disimpan di Gereja Del Gesu di Roma. Jantung St Vincentius disimpan terpisah dari tubuhnya di Kapel Medali Wasiat Paris. Apakah boleh sisa abu kremasi ayah dan ibu kami dibagi diantara kami, anak-anak mereka, dan disimpan di ruang doa keluarga masing-masing?

Theresia Wigatini, Jakarta

Pertama, pada 25 Oktober yang lalu, Kongregasi untuk Ajaran Iman mengeluarkan sebuah Pedoman berjudul Ad Resurgendum cum Christo (Untuk bangkit bersama Kristus) yang sudah disetujui Paus Fransiskus pada Maret 2016, dan ditandatangani oleh Perfek Kongregasi untuk Ajaran Iman Kardinal Gerhard Mueller. Ditegaskan kembali ajaran bahwa Gereja tetap mengizinkan kremasi meskipun sesungguhnya lebih menyukai pemakaman. Gereja menginginkan agar kita mengenangkan orang-orang yang meninggal dunia dan menghindari melupakan mereka. Kremasi tidak menghalangi kebangkitan atau merusak jiwa. Prefasi arwah 1 mengingatkan bahwa “hidup hanyalah diubah, bukan dilenyapkan.” Mengenang para arwah mengingatkan kita pada adanya kebangkitan badan.

Kedua, Gereja mengingatkan agar kita memperlakukan abu kremasi dengan hormat, seperti halnya memperlakukan jenazah atau pribadi yang bersangkutan ketika masih hidup. Perlu dihindari juga praktik takhayul, misal membagi abu jenazah supaya masing-masing anak mendapatkan keberuntungan yang sama. Gereja melarang bahwa abu kremasi itu dibagi-bagi di antara anak-anak atau siapapun. Praktik Gereja masa lalu yang membagi bagian tubuh santo-santa dirasakan sudah tidak cocok untuk zaman sekarang. Abu kremasi harus disimpan hanya dalam satu wadah (guci) seperti halnya jenazah diwadahi oleh satu peti mati saja.

Ketiga, yang dilarang Gereja ialah menaburkan abu kremasi itu, baik di udara, darat, maupun air. Larangan penaburan abu kremasi ini bertujuan untuk menghindari masuknya paham panteisme, naturalisme, nihilisme, dan gerakan New Age. Misalnya, penaburan itu bisa dimaknai sebagai penyatuan kembali manusia dengan Bunda Alam Semesta sebagai asal-usul manusia. Ada pula yang memaknai penaburan itu sebagai pengembalian sisa manusia yang berasal dari debu kembali menjadi debu yang tak berarti. Paham-paham inilah yang diikuti secara tak sadar dengan penaburan sisa abu kremasi.

Keempat, surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman itu juga melarang penggunaan ritus-ritus yang berlawanan dengan gagasan kematian menurut ajaran Gereja Katolik. Yang dimaksud di sini bisa mencakup persembahan makanan dan minuman kepada yang meninggal seolah-olah mereka masih membutuhkan makan dan minum seperti kita di dunia. Juga pengiriman uang-uangan, rumah-rumahan, pemecahan buah semangka dan kendi, pemotongan hewan untuk dipersembahkan bagi arwah yang meninggal, dan yang lain.

Kelima, abu kremasi itu boleh ditanam di makam atau dibenamkan seutuhnya di laut, atau disimpan di tempat penyimpanan abu kremasi yang sudah mendapatkan restu dari Gereja atau bahkan di gereja itu sendiri. Abu kremasi tidak boleh disimpan di rumah. “Abu (jenazah) bukan hanya milik keluarga, tetapi sebagai anak Allah, dia tetap milik Umat Allah”. Kita harus melampaui pemikiran individualistis. Kehadiran abu jenazah itu membantu kita untuk mengenang dan mendoakannya kepada Allah dengan penuh hormat.

Karena kebiasaan kremasi masih baru dalam Gereja Katolik, maka masih sedikit tersedia columbarium (columba= burung dara) yang secara resmi direstui Gereja Katolik. Di daerah di mana belum ada columbarium, abu kremasi bisa dititipkan di tempat umum. Jika demikian, hendaknya kotak yang bersangkutan dimintakan berkat dari seorang imam. Keuskupan atau Paroki perlu menyediakan columbarium untuk mengakomodasi kebutuhan umat Katolik.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 46 Tanggal 13 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*