Artikel Terbaru

Lika-Liku Menjernihkan Imamat

Justinus Sudarminta SJ
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Lika-Liku Menjernihkan Imamat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHampir seluruh karyanya tercurah di lembaga pendidikan dan pembinaan calon imam. Ia mengikuti jejak sang bapak sebagai pendidik. Penghujung Oktober lalu, para kolega mempersembahkan sebuah buku merayakan ulang tahunnya ke-65.

Suatu hari, saat mengenyam pendidikan di Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan, Jawa Tengah, Justinus Sudarminta pulang ke rumah sembari berlinang air mata. Padahal bocah kelahiran Boro, Yogyakarta, 12 April 1951 itu, baru saja liburan ke rumah. Sudar, panggilannya, sambil menangis, menemui bapaknya, Tarcisius Harjowiyoto.

Melihat sang buah hati datang dengan mata sembab, Harjowiyoto bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Sambil terisak, anak kedua dari lima bersaudara itu memberitahu sang bapak, buku rapornya ditahan seminari lantaran ia menunggak uang sekolah.

Harjowiyoto menenangkan putranya. Sambil mengelus rambut Sudar, ia mengajak putranya ke pasar. Mereka menjual kambing. Begitu ternak itu laku, bapak-anak itu meluncur ke seminari, lalu menutup tagihan. “Sungguh, betapa sulitnya menjadi orang miskin,” kenangnya.

Wong Ndeso
Sejak kecil Sudar bercita-cita menjadi imam. Benih-benih itu kian berkecambah lantaran kisah manis tentang seminari yang ia dengar dari kakak sepupunya. “Pendidikan di seminari itu baik. Jika tak menjadi imam pun kamu bakal menjadi orang baik,” ungkap alumnus SR Kanisius, Kulon Progo, Yogyakarta ini.

Tujuh tahun di Mertoyudan ternyata tak semanis batang tebu. Tahun pertama, Sudar merasa amat canggung di antara teman-teman seangkatan. Ia merasa sebagai satu-satunya siswa yang berasal dari desa. Soal itu, ia pernah bertengkar dengan temannya lantaran diolok wong ndeso atau orang kampung.

Sudar sadar takkan mampu bersaing soal materi dengan kawan-kawannya. Apalagi ia tahu karena kesulitan ekonomi keluarga, rapornya pernah ditahan oleh seminari. Ia juga tak bisa menjagokan asalnya dari desa sebab kawan-kawannya yang lain dari kota dan amat maju dalam berbagai hal.

Pintu masuk bagi Sudar untuk bersaing dengan rekan seangkatan adalah jalur akademik. Ia mengakui tanpa kerja keras dan ketekunan muskil mencapai hasil optimal. Buah usahanya kian terasa sejak berada di bangku sekolah menengah atas. “Saya berhasil mengalahkan rasa rendah diri dengan prestasi studi,” ujarnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*