Artikel Terbaru

Beato Paulus Pak Gyeong Hwa (1757-1827): Mati Demi Kristus

Para Martir Korea
[joanlugalda.com]

HIDUPKATOLIK.com“Jika kita mati, kita mati untuk Kristus”. Itulah pesan terakhir Beato Paulus Pak Gyeong Hwa sesaat sebelum kepalanya dipenggal. Ia wafat sebagai martir Korea.

Sejarah mencatat, Gereja Katolik Korea pernah mengalami masa-masa suram, terutama pada zaman Dinasti Joseon (1392-1897). Kala itu, umat Katolik dikejar-kejar, ditangkap, dan dibunuh. Periode tahun 1791-1888, tercatat sekitar 800 ribu umat Katolik Korea yang wafat dalam delapan kali penganiayaan di berbagai wilayah, seperti Shinhae (1791), Eulmyo (1795), Jeongsa (1797), Shinyu (1801), Eulhae (1815), Junghae (1827), Gihae (1839), dan Byungin (1866).

Salah satu dari ribuan martir itu adalah Paulus Pak Gyeong Hwa. Ia dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya karena menolak melepaskan iman kepada Kristus, 15 November 1827. Keteguhannya mempertahankan iman pada Kristus hingga titik darah penghabisan akhirnya diganjar dengan gelar Beato.

Tak ada banyak catatan tentang sejarah hidup Gyeong Hwa. Dari beberapa kisah yang terkumpul, diketahui bahwa sejak kecil, ia sering dipanggil Dohang, ‘orang bijaksana’. Ia lahir dari keluarga bangsawan di Hongju, Chungcheong-do pada 1757. Chungcheong-do adalah salah satu dari delapan provinsi di Korea pada masa pemerintahan
Dinasti Joseon. Nama Chungcheong-do diambil dari dua kota besar di Korea, Chungju di Utara dan Cheongju di Selatan.

Awalnya, Gyeong Hwa memeluk Konfusianisme. Sebagai anak bangsawan, ia sangat memahami falsafah dasar Konfusianisme, khususnya ajaran tentang “Tian” (Maha Pencipta Semesta), “Xing” (jati diri manusia), dan “Ren” (nilai kemanusiaan). Ia juga mendalami Ba Cheng Chen Gui, ‘Delapan Pengakuan Iman’ untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa itu, ajaran Konfusianisme mendominasi kepercayaan dan pemikiran masyarakat Korea. Ajaran ini mencapai masa keemasan pada zaman Dinasti Joseon, berdampingan dengan Buddhisme, Taoisme, dan Shamanisme (kepercayaan asli Korea). Ketika berkuasa, Dinasti Joseon mengeluarkan maklumat anti Katolik yang diberi nama Seohak, ‘menolak semua ajaran dari Barat’. Kendati begitu, tahun 1608 kekristenan mampu menelusup masuk ke tanah Korea, yang diikuti para misionaris Société des Missions Étrangères de Paris, (MEP) asal Perancis. Kedatangan para misionaris kian menyulut kemarahan pemerintah. Pengejaran terhadap umat Kristiani pun semakin gencar dilakukan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*