Artikel Terbaru

Uskup Lawan Korupsi

HIDUPKATOLIK.com – Sidang Konferensi Waligereja Indonesia 2016 secara spesifik membahas ihwal korupsi melalui tema “Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif”. Kata para Uskup, perilaku koruptif meniadakan keadilan yang sejati. Alam, bumi, dan segala isinya diciptakan dan dianugerahkan Tuhan bagi semua orang. Lalu mereka menyerukan perubahan mental untuk mencegah perilaku koruptif, baik dalam diri sendiri maupun di lingkungan masing-masing. Perubahan ini dilakukan dengan berlaku jujur dalam tindakan, tidak menyalahgunakan kekuasaan demi keuntungan pribadi atau golongan, dan tidak melayani orang-orang yang mengajak berbuat korupsi.

Para Uskup sendiri tidak menutup-nutupi bahwa perilaku koruptif juga menjangkiti sendi-sendi kehidupan menggereja yang tampak dalam berbagai bentuk. Dari sini muncul harapan agar hasil sidang itu benar-benar berimbas langsung ke dalam nadi Gereja sendiri.

Penjaga Moral
Para Uskup gelisah oleh berbagai tindakan korupsi. Betapa tidak? Berbagai aksi operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya tak mampu menyiutkan nyali koruptor. OTT justru melecut “daya kreasi” mereka untuk meningkatkan keterampilan dan kelihaian menyembunyikan kuku agar tidak tertangkap. Kalau toh tertangkap, mereka anggap sebagai “kesialan” semata.

Jangan berharap ada penyesalan dari seorang koruptor karena korupsi sudah menjadi candu bagi dia. Kalaupun muncul kata “menyesal” di persidangan, itu hanya kedok agar hukuman dikurangi. Tatkala karena “penyesalan” itu sang hakim mengurangi hukuman, dalam hati koruptor itu berbisik girang, “Kena tipu lu, hakim bodoh!” Maka, seorang koruptor dan siapa saja yang menikmati hasil korupsinya harus dihukum.

Sangat mustahil istri atau suami atau anak-anaknya yang telah dewasa tidak tahu atau tidak menduga sang suami atau istri atau ayah atau ibunya korupsi. Kalau ada uang atau kekayaan yang bertambah secara “tidak masuk akal” mestinya dipertanyakan. Di sini, istri atau suami dan anak-anak harus menjadi penjaga moral dari sang suami atau istri atau ayah atau ibu.

Soal perilaku korup, Paus Fransiskus menegaskan, “Sebuah kehidupan yang berlandaskan korupsi adalah pembusukan yang terselubung!” Mengutip Injil Lukas, “Adalah lebih baik baginya (koruptor-Red) jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu orang itu dilemparkan ke dalam laut.”

Dalam bulla permakluman Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, Misericordiae Vultus (MV 19.2), Paus Fransiskus mengatakan, “…Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan karena kerakusannya yang lalim, menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin.”

Mereka yang terampas haknya oleh koruptor adalah kaum miskin yang berserakan di sekitar rel kereta api dan tidur teronggok di balik gubuk-gubuk reot. Masuk kelompok ini juga adalah mereka yang terhampar di lahan-lahan kritis, bertarung di jalanan, di pabrik-pabrik, menjual nyawa di negeri orang dengan menjadi TKW/TKI. Sebagian dari mereka yang terampas haknya masih terbelenggu dalam kebodohan dan ketertinggalan, menderita busung lapar akut dan sebagainya. Sesungguhnya para koruptor adalah orang-orang yang telah menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesama. Yang mereka pikirkan hanyalah cara merampok kekayaan bagi diri sendiri. Bersamaan dengan itu mereka tampak tak ubahnya orang yang paling peduli, bahkan suci. Mereka membangun citra sebagai orang baik nan dermawan, bahkan sangat religius. Mereka sering menyumbang untuk pembangunan rumah ibadah dan sebagainya.

Tidak ada pilihan lain, korupsi harus jadi musuh bersama. Jika dibiarkan, bahkan negara pun bisa lumpuh olehnya. Setiap orang berpotensi menjadi koruptor tatkala kesempatan untuk itu terbuka melalui kekuasaan yang ia sandang. Kata Lord Acton (1834-1902) “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”

Gereja pun harus dibebaskan dari tindakan koruptif. Mari membersihkan rumah kecil sendiri sebelum coba-coba membersihkan rumah yang lebih besar. Konon, Gereja adalah tempat penyelewengan keuangan yang paling aman. Ketika seorang pastor ketahuan menyalahgunakan uang, tinggal dipindahkan, lalu “tuntas” masalahnya. Semoga dugaan ini meleset secara sempurna.

Emanuel Dapa Loka

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 46 Tanggal 13 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*