Artikel Terbaru

Ritual Penyajian Makanan di Makam

HIDUPKATOLIK.comBerziarah ke kuburan orangtua dengan menyajikan makanan dan menyalakan rokok di kuburan, apa tepat menurut ajaran Katolik?

Sihol Silvester, Jakarta

Kebiasaan demikian itu umumnya dilakukan karena meniru kebiasaan kepercayaan lain, tetapi menurut ajaran Katolik praktik itu dinilai kurang tepat. Dalam kehidupan kekal, orang sudah tidak lagi melakukan kesibukan seperti di dunia ini. Di sana, mereka sudah tidak lagi makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan membangun, kawin dan dikawinkan (bdk. Luk 17:26-37; juga 20:35). Karena itu, mereka juga tidak membutuhkan uang atau rumah. Maka tidak perlu dikirimi uang-uangan atau dibakarkan rumah-rumahan dari kertas dengan segala pernak-perniknya.

Dalam kehidupan di balik kematian, mereka membutuhkan bantuan rohani untuk mendapatkan pengampunan dari Allah dan kebahagiaan kekal. Maka, doa, matiraga, olah tapa akan sangat berguna untuk membantu mereka memasuki kehidupan kekal. Gereja Katolik mengajarkan bahwa bantuan yang terbesar bagi mereka adalah persembahan perayaan Ekaristi di mana kurban Yesus Kristus dihadirkan kembali dan pahala-pahalanya dilimpahkan kepada para arwah ini.

St Theresia dalam suratnya “The teaching of the little flower on Purgatory” mengatakan bahwa sebetulnya bagi Allah, masuk surga melalui Api Penyucian itu adalah sebuah pengecualian. Aturan yang sesungguhnya ialah orang bisa langsung masuk surga. Pendapat kebanyakan orang justru terbalik. Mohon tanggapan.

NN, Jakarta

Memang benar, Allah tidak menyediakan Api Penyucian sebagai syarat yang harus, mau tidak mau, dilalui. Jadi, memang tidak ada keharusan untuk melalui Api Penyucian. Api Penyucian disediakan, karena belaskasihan Allah kepada manusia untuk mereka yang belum sungguh-sungguh siap untuk masuk ke persekutuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan masih membutuhkan pemurnian. Allah akan sangat bersukacita jika manusia bisa masuk ke surga tanpa melalui Api Penyucian, seperti Bunda Maria. Ini berarti bahwa manusia harus berjaga-jaga kapanpun Allah memanggil untuk pulang ke rumah-Nya.

Apa yang terjadi pada Yesus setelah wafat-Nya di salib? Benarkah Yesus masuk ke Api Penyucian?

NN, Jakarta

Gereja mengajarkan bahwa sebelum penebusan Yesus Kristus, mereka yang sudah meninggal dalam keadaan rahmat dan sudah membayar hukuman dosa mereka, tidak bisa masuk ke dalam surga karena pintu surga masih tertutup karena dosa Adam. Sambil menanti saat pintu surga dibuka, mereka dikumpulkan di “Tempat Penantian.” Di sini mereka sudah mulai mencicipi keadaan terberkati, tetapi terbatas. Jadi, Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk dari dalamnya,” juga tidak untuk menghapuskan neraka, tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia” (KGK 633).

Sesudah kematian-Nya, Yesus turun ke Tempat Penantian orang mati “sebagai Penyelamat dan memaklumkan warta gembira kepada jiwa-jiwa yang tertahan di sana.” Karena itu Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus “bangkit dari antara orang mati” (Kis 3:15; Rm 8:11; 1 Kor 15:20; KGK 632). Tujuan kedatangan Yesus ke Tempat Penantian ialah “untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia” (KGK 633; bdk KGK 634-635). Tempat penantian ini juga disebut limbus patrum atau tempat penantian para bapa, karena di sinilah para tokoh Perjanjian Lama, orang-orang benar sebelum Kristus, menunggu saat penebusan manusia. Seringkali juga dirujuk sebagai “pangkuan Abraham”. Perlu diperhatikan bahwa Tempat Penantian ini tidak sama dengan Api Penyucian.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 47 Tanggal 20 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*