Artikel Terbaru

Stop Korupsi

Uskup Agung Jakarta dan Uskup Ordinariat Militer Indonesia Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
[HIDUP/Y. Prayogo]

HIDUPKATOLIK.comKorupsi merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat, bahkan di dalam Gereja ada korupsi.

Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyediakan tiga hari untuk membicarakan tema korupsi. Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo menguraikan alasan para Uskup membicarakan korupsi dan bentuk-bentuk tindakan koruptif yang terjadi di tubuh Gereja. Berikut ini petikan wawancara selengkapnya:

Mengapa para Uskup mendalami isu korupsi?
Ada beberapa alasan para Uskup merasa perlu mendalami isu korupsi. Pertama, perilaku koruptif telah begitu merusak kehidupan masyarakat, terjadi di mana-mana, baik di dunia bisnis, pemerintahan, lembaga negara, bahkan dalam institusi agama, tidak terkecuali lembaga gerejawi. Lebih daripada itu, korupsi dalam segala bentuknya telah menjadi kejahatan yang sistemik, terstruktur dan dinamis, meluas sampai ke mana-mana. Kedua, para Uskup ingin menanggapi seruan Paus Fransiskus yang dalam rangka ajakan untuk bertobat, menyatakan, “Undangan yang sama saya sampaikan kepada orang-orang yang melakukan korupsi atau terlibat di dalamnya. Luka-luka yang bernanah ini merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat…” (Wajah Kerahiman 19.2).

Buah pencerahan apa yang diperoleh setelah mendalami isu korupsi?
Yang diundang oleh Sidang KWI untuk memberikan pencerahan adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata, pegiat anti korupsi dari Indonesian Corruption Watch Adnan Topan Husodo, serta pegiat anti korupsi dari EHEM Justina Rostiawati dan Royani Lim. Para narasumber itu memberikan pencerahan yang kurang lebih lengkap. Penjelasan selengkapnya disampaikan dalam Seruan Pastoral KWI yang kurang lebih mengambil judul “Stop Korupsi: Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif.”

Apakah dalam tubuh Gereja juga kemungkinan terjadi korupsi?
Bukan hanya kemungkinan, memang ada korupsi juga di dalam lembaga gerejawi. Syukur bahwa pada umumnya lembaga-lembaga gerejawi boleh dikatakan bersih. Tetapi kadang-kadang terdengar kabar bahwa di Paroki A ada pemalsuan nota pembelian, di Paroki B dana diselewengkan, di Paroki C celah Pedoman Keuangan dimanfaatkan. Itulah sebab, keuskupan-keuskupan dan lembaga-lembaga gerejawi yang lain terus berusaha untuk mengembangkan tata kelola keuangan yang akuntabel dan transparan sehingga peluang korupsi semakin tidak ada.

Bagaimana melihat tindakan korupsi dengan perspektif Kitab Suci?
Sebetulnya kita perlu tahu apa persisnya arti kata korupsi. Penjelasan mengenai korupsi di Indonesia diberikan, misalnya dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 dan Undang-Undang No. 21 Tahun 2001. Menurut Undang-Undang itu ada 30 tindakan yang dapat disebut korupsi. Secara ringkas, tindakan-tindakan itu dapat dikelompokkan menjadi tindakan yang merugikan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*