Artikel Terbaru

Maria de Sousa Mariano: Melampaui Batas Raga

Maria de Sousa Mariano.
[HIDUP/Edward Wirawan]

HIDUPKATOLIK.comTerlahir sebagai tunadaksa, Tete sering dirisak atau diremehkan. Berkat dukungan keluarga, ia tumbuh menjadi kuat. Mengandalkan Tuhan, ia membela kaum disabilitas.

Di sebuah kamar yang sunyi, Maria de Sousa Mariano terpekur. Air mata mengalir deras turun ke pipinya. “Mengapa selalu seperti ini Tuhan?” keluh Tete, sapaannya, di sela isak tangis. Hari itu, Tete berlomba debat di sekolah. Ia berhasil menyingkirkan lawan-lawannya. Apa daya, pada puncak debat, ia berhadapan dengan nona yang ia sukai.

Meski tak pernah ia ceritakan, panitia tahu, Tete mengagumi nona itu. Tete yang galau pun tak berkutik. Ia kalah debat. “Mereka tahu saya menyukai dia, maka ia diatur untuk berhadapan dengan saya,” kenangnya.

Tete adalah penyandang tunadaksa. Ia lahir tanpa tangan kanan. Tangan kirinya pun tak sempurna. Inilah yang menjadi ihwal Tete rentan dirisak. Beberapa teman pasti akan membasuh tangan usai berjabat tangan dengannya. Namun Tete tak pernah membalas. Ia menyimpan semua perkara itu dalam hati.

Kala kesedihan melanda, ujar Tete, ia akan menyendiri dan menangis. Sebaliknya, kalau senang, ia akan hadir dan tertawa di antara teman-temannya. “Saat terpuruk, saya cuma bisa berdoa, Tuhan Yesus dan Bunda Maria, Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Terus saya ulangin.

Keluarga Siap
Sejak SD hingga SMA, Tete sekolah di sekolah umum. Kala SD kelas I, ia sempat menghebohkan SDN Karangrejo. Tete menjadi juara catur untuk anak usia SD se-Yogyakarta. Tak ada yang menyangka, tangan kirinya yang mungil begitu lihai memindahkan bidak-bidak catur. Secara akademik, ia kerap nangkring di posisi tiga besar. Pun ketika di SMP dan SMA, ia tetap bertengger di urutan sepuluh besar.

Pria kelahiran Yogyakarta, 18 April 1983 ini bersyukur dan merasa beruntung. Ia lahir dalam keluarga yang siap. Ia juga berasal dari lingkungan keluarga Katolik yang taat. Kakeknya menjadi Ketua Dewan Paroki St Albertus Magnus Jetis, Yogyakarta. “Ketika saya lahir, Kakek meyakinkan papa, mama, dan keluarga: ‘Anak itu karunia Tuhan’,” kenangnya.

Tete berkisah, banyak temannya yang penyandang disabilitas ditolak keluarga. Di Indonesia, kata Tete, masih berkembang paham bahwa anak disabilitas merupakan kutukan. Ini yang membuat keluarga enggan merawat, bahkan membawa mereka ke panti asuhan. “Mereka lahir di keluarga yang tidak siap sehingga diabaikan,” simpulnya dengan mimik muram.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*