Artikel Terbaru

Asrama Putra St Albertus Dempo, Malang: Handphone Jadul dan Belajar Mandiri

Penghuni Asrama Dempo bermain kartu saat rekreasi bersama.
[HIDUP/A. Aditya Mahendra]

HIDUPKATOLIK.com – Penghuni Asrama Dempo, Malang, masih pakai “handphone jadul” sebagai alat komunikasi. Justru lewat pilihan inilah mereka belajar untuk meningkatkan komunikasi antarteman di dunia nyata.

Di balik pagar tinggi menjulang berwarna putih itu tersimpan banyak kisah. Salah satunya kisah tentang kebersamaan. Ada 39 anak yang tinggal di balik tembok putih itu. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dari balik tembok itulah sehimpun laki-laki remaja ini merajut mimpi buat masa depan.

Tiap pagi mereka mendapat tugas wajib untuk saling membangunkan. Mereka yang sudah bangun terlebih dahulu wajib membangunkan temannya untuk mandi, doa, sarapan dan berangkat ke sekolah. Ke-39 anak ini bersekolah di Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Dempo, Malang, Jawa Timur. Sehari-hari mereka tinggal di bawah satu atap Asrama Putra St Albertus Dempo.

Tugas saling membangunkan sudah menjadi rutinitas anak-anak. Lewat hal sederhana inilah mereka belajar saling peduli dan merasa satu bagian dari yang lain. “Di asrama ini kami menanamkan nilai-nilai kebersamaan, perjuangan, dan kejujuran,” tutur Kepala Asrama Putra St Albertus Dempo, Bruder Antonius Mungsi OCarm saat ditemui beberapa waktu lalu.

Nilai persaudaraan juga ditanamkan ke dalam diri para penghuni asrama dengan cara belajar bareng. Tiap malam, para penghuni asrama menghabiskan waktu dua sampai tiga jam untuk belajar bersama. Di situ mereka bisa mengerjakan tugas sekolah secara bersama-sama, entah itu dengan teman sekelas atau antar kelas. Anak-anak asrama yang sudah lama pun wajib berbagi ilmu kepada penghuni baru bergabung di awal tahun ajaran.

Arama Dempo juga menggelar outbound rutin. Kegiatan ini biasanya diadakan saat libur kenaikan kelas dengan mengambil waktu tiga sampai empat hari. Bruder Mungsi menegaskan, melalui hal-hal sederhana tersebut anak-anak belajar untuk mengenal sesama penghuni asrama tanpa melihat darimana mereka berasal.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*