Artikel Terbaru

Mutu Guru Katolik

Elementary school students raising hands. View from behind.

HIDUPKATOLIK.com – Pada Hari Guru Nasional, 25 November, para guru melakukan refleksi cara meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kualitas pendidikan saat ini menjadi kunci meningkatkan kualitas generasi mendatang. Mutu lulusan sekolah, terutama sekolah-sekolah Katolik juga menentukan daya saing Indonesia dengan bangsa-bangsa lain pada masa depan. Maka, fokus utama yang harus dikejar adalah cara meningkatkan mutu lulusan setiap jenjang sekolah saat ini.

Satu kunci penentu mutu pendidikan adalah “kualitas guru” yang mengajar di sekolah. Guru yang mengajar dengan berkualitas berdampak kepada siswa secara langsung. Peserta didik akan belajar lebih baik jika berada di bawah bimbingan guru yang menguasai materi yang diajarkan, selalu “ada” bagi peserta didik, murah hati, murah senyum, selalu siap menolong, melayani dengan hati, serta mampu menjelaskan konsep yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Guru dengan kualitas seperti itu membuat peserta didik merasa nyaman, bersemangat belajar, dan mempunyai tempat bertanya setiap saat.

Sebaliknya kualitas guru yang kurang baik seperti hanya sibuk mengajar, mudah marah, sering menyalahkan peserta didik, bertutur kata merendahkan, mempermalukan peserta didik di depan umum, selalu mengeluh, kurang disiplin, malas belajar, atau kurang kreatif. Guru dengan kualitas demikian akan membuat peserta didik kurang bersemangat belajar serta tidak mendapat role model yang baik.

Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan mutu guru. Di sekolah dengan guru kualitas terbaik, peserta didik akan melalui proses pendidikan yang berkualitas. Kualitas guru dapat meningkat jika; pertama sekolah atau pengelola lembaga pendidikan memberikan kesempatan yang luas bagi guru untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, yakni menguasai bidang yang diajarkan, dan kedua, guru mesti diajak untuk meningkatkan kemampuan pedagogis guru, yakni kemampuan membimbing dan membantu peserta didik sampai mengerti sungguh-sungguh. Kedua kemampuan ini adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Kemampuan profesional hanya dapat ditingkatkan bila guru mempunyai keinginan belajar, ingin menguasai bidang yang diajarkan. Hal itu tampak dalam minat guru membaca, mengikuti perkembangan ilmu, serta terus berusaha melakukan inovasi pengembangan alat-alat peraga mengajar. Sementara untuk memperbaiki metode mengajar, guru bisa melakukan micro-teaching atau merekam cara mengajar, kemudian menganalisis bersama guru-guru yang lain. Hal ini bisa dilakukan secara periodik. Karena, dengan latihan terus-menerus, para guru dapat meningkatkan kemampuan profesional.

Kemampuan pedagogis hanya dapat ditingkatkan melalui pengalaman menangani kasus-kasus peserta didik. Misal pengalaman menangani anak yang sering terlambat, mempunyai kesulitan dalam belajar, berisik di kelas, bicara kasar, atau suka membangkang. Dalam hal ini, sekolah atau pengelola lembaga pendidikan harus mengalokasikan waktu, minimal satu minggu satu kali, semua guru berkumpul dan membahas satu atau dua cara penanganan kasus yang terjadi dalam minggu itu. Bila hal ini dilakukan secara konsisten dan terus-menerus, maka pemahaman guru tentang membimbing peserta didik semakin diperkaya.

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah-sekolah Katolik bisa dilakukan melalui peningkatan kualitas guru. Kualitas guru hanya bisa dilakukan melalui latihan yang konsisten dan terus-menerus. Dengan demikian, sekolah harus menyiapkan waktu untuk pengembangan profesional guru yang dilakukan secara teratur. Kualitas pedagogis dapat ditingkatkan melalui berbagi pengalaman dan pengetahuan antarguru dalam menangani beragam permasalahan di sekolah. Semoga dengan upaya tersebut, kualitas guru di sekolah-sekolah Katolik semakin meningkat, sehingga bisa mempersiapkan masa depan generasi penerus.

Fidelis Waruwu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 14 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*