Artikel Terbaru

Perempuan Dilarang Bicara?

HIDUPKATOLIK.comMengapa Paulus melarang perempuan berbicara dalam jemaat (1 Kor 14:34-35)? Mengapa perempuan tidak boleh mengajar pria (1 Tim 2:9-14)? Apakah Paulus menikah?

Bernardus Djoko Harmono, Malang
Pertama, kita harus mengingat sikap Paulus yang sangat menghargai perempuan dan melibatkan perempuan dalam karya pelayanan (bdk. HIDUP No. 05, 31 Januari 2016). Kita juga tidak boleh menilai Paulus hanya berdasarkan ungkapan tertentu dalam salah satu suratnya. Penilaian yang menyeluruh dan lebih tepat haruslah mengalir dari pertimbangan atas semua surat-surat dan menilai dengan latar belakang budaya yang ada pada waktu itu.

Kedua, para ahli Kitab Suci sepakat mengatakan bahwa dua ayat yang diungkapkan Paulus dalam 1 Kor 14:34-35 muncul secara tiba-tiba dan mengganggu alur alami pemikiran Paulus dalam surat itu. Perlu diperhatikan bahwa dalam ayat 31, Paulus berbicara tentang anugerah kenabian dan menganjurkan agar semua orang harus diperbolehkan berbicara dalam pertemuan-pertemuan agar beroleh kekuatan. Maka, kemunculan ayat 34-35 yang melarang perempuan berbicara, sungguh bertentangan dan tidak sesuai dengan pendapat Paulus dalam ayat 31. Keanehan itu menjadi lebih jelas lagi karena dalam ayat 36, surat itu melanjutkan pemikiran Paulus bahwa semua orang boleh berbicara, “Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang?”

Berdasarkan pengamatan ini, para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa ayat 34-35 tersebut adalah tambahan kemudian dalam surat asli Paulus. Jika kedua ayat itu dihapus, maka alur pemikiran Paulus lebih alami dan wajar. Nampaknya kedua ayat itu ditambahkan kemudian ketika ada perempuan-perempuan yang tidak dipersiapkan secara memadai, berkhotbah membagikan ajaran yang salah, dan karena itu diminta tidak berkhotbah.

Ketiga, perlu diperhatikan bahwa Paulus mengizinkan perempuan berbicara dalam pertemuan-pertemuan liturgis, meskipun harus menggunakan kerudung (1 Kor 11:3-10). Ini mendukung penafsiran bahwa 1 Kor 14:34-35 adalah tabahan kemudian, bukan asli dari surat Paulus. Memberikan peran kepada perempuan dalam liturgi adalah suatu tindakan revolusioner pada saat itu. Dalam budaya Yahudi, perempuan tidak diperhitungkan dan dilarang berbicara atau berdoa dengan suara nyaring. Maka, sikap Paulus sudah mendobrak tradisi tersebut.

Keempat, setelah studi yang cermat, para ahli Kitab Suci sekarang berpendapat bahwa surat Paulus kepada Timotius bukan berasal dari Paulus, tetapi dari salah seorang murid Paulus. Maka, ungkapan yang merendahkan perempuan dalam ayat yang dirujuk, bukan berasal dari Paulus sendiri. Surat-surat Paulus menunjukkan dengan jelas bahwa Paulus adalah pembela perempuan yang sangat tangguh dan menggalakkan partisipasi perempuan dalam hidup komunitas dan pelayanan.

Kelima, dalam salah satu suratnya, nampak jelas bahwa Paulus tidak mempunyai istri (1 Kor 7:7-8). Apakah dia selibat atau duda? Menilik sikap Paulus terhadap hukum Yahudi, Paulus adalah seorang pengikut hukum Yahudi yang setia. Bahkan bisa dikatakan bahwa Paulus cukup fanatik. Paulus membanggakan diri sebagai pemelihara Hukum Yahudi yang tidak bercacat (Flp 3:5-6). Jika semua orang Yahudi yang baik wajib menikah, sesuai dengan perintah Allah (Kej 1:28), maka tidak menikah merupakan pelanggaran perintah pertama dalam Kitab Suci itu. Jadi, sangat mungkin Paulus juga pernah menikah. Sangat mungkin, pada saat pertobatannya menjadi murid Yesus, Paulus sudah tidak mempunyai istri. Jadi, Paulus adalah seorang duda. Nasihatnya dalam 1 Kor 7:8 mengindikasikan juga hal ini.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 6 Tanggal 7 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*