Artikel Terbaru

Putraku Takut Tidur Sendirian

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, saya Rita, telah menikah 15 tahun lalu dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang duduk di kelas 3 SMP. Satu kebiasaan anak kami sampai saat ini adalah takut tidur sendirian. Alasannya, takut setan dan gelap. Selama ini dia tidak tidur sendirian karena selalu tidur bersama orangtua atau juga sering menginap di rumah kakek-nenek. Saya ingin bertanya, apakah ada yang salah dengan anak kami? Kenapa sudah mencapai umur sekian kok masih takut? Apa yang harus kami buat sebagai orangtua? Terima kasih.

Rita, Jakarta

Ibu Rita, salam sejahtera. Kebiasaaan ananda takut tidur sendirian, tentunya memiliki latar belakang. Ketakutan ini ada kaitannya dengan pengalaman traumatis waktu kanak-kanak sering ditakut-takuti, dihukum orangtua di ruangan gelap yang terkunci, membaca dan mendengar cerita horor. Bisa juga karena kepercayaan akan keberadaan mahkluk-mahkluk halus dalam kegelapan pada malam hari di tempat atau ruangan yang sepi.

Ada banyak latar belakang yang sifatnya subjektif. Namun bila dikategorikan secara umum, intinya ada dua, yakni latar belakang internal dan eksternal. Yang sifatnya internal, banyak terjadi pada orang-orang yang mengalami masalah kejiwaan berat, seperti paranoia, schizophrenia dan phobia berat. Ananda tentu bukan anak yang mengalami masalah kejiwaan berat itu. Dia hanya mengalami hambatan dalam hal otonomi-kemandirian.

Dalam dunia batin anak, kesendirian bisa mengalami perluasan asosiasi makna dengan ketidakberdayaan dan ketakutan. Pada anak-anak seringkali ada kecenderungan alamiah, yakni ketidakberdayaan atau ketakutan mereka “bisa diterima” orang dewasa atau orangtua.

Dalam banyak kasus, ketakutan tidur sendiri pada anak dan remaja lebih terkait dengan latar belakang pengasuhan masa kecil (usia batita dan balita) yang cenderung diwarnai tindakan protektif orangtua. Ini soal rasa kekhawatiran akan keselamatan sang anak. Misalnya, anak tidak diberi kesempatan untuk berlatih mandiri, sehingga sejak bangun tidur hingga tidur malam selalu ditemani.

Semua ini “mengkondisikan” pola hidup serba ditopang, yang akhirnya “melembagakan” sikap dan pola hidup yang selalu tergantung pada orang lain. Mungkin karena orangtua beranggapan bahwa hanya dengan cara itu, cinta kasih bisa optimal diberikan. Tentang apa dan bagaimana latar belakang kebiasaan ananda takut tidur sendirian, belum tentu seperti pola hidup di atas. Selalu ada hal yang kasuistik pada tiap kebiasaan.

Hal ini sebagai rujukan untuk memahami dan akhirnya bisa menyadari kondisi ananda terkini. Ajaklah ananda bicara dari hati ke hati. Apa yang sebenarnya ditakuti kalau tidur sendiri? Mengapa itu ditakuti? Dengarkan jawaban-jawaban ananda dengan sikap tidak mengadili. Beberapa langkah yang bisa ibu dan suami lakukan, pertama, mengingat bahwa ananda sudah cukup usia untuk diajak berpikir rasional, tanyakan menurut ananda apa cara atau bagaimana mengatasinya? Bila ananda menjawab, solusinya adalah ditemani tidur, jelaskan bahwa seusia ananda sudah saatnya mulai mandiri dalam berbagai hal. Karena ananda perlu menyadari pentingnya privacy.

Kedua, bila ananda tetap merasa takut tidur sendiri, mulailah secara bertahap tidur sendiri. Misal, tidur di kamar dengan pintu dibuka, sehingga terpantau dari luar. Kamar dibuat lebih nyaman, misalnya warna dinding diubah menurut kesukaannya, dipasangi photo atau gambar yang disukai, dilengkapi dengan alat audio untuk memutar musik lembut.

Ketiga, ketika ananda mulai berani agak cukup lama di kamar untuk menyiapkan tidur, sesekali dekatilah untuk memantau atau menanyakan bagaimana kondisinya. Selalu berikan komentar atau sapaan yang afirmatif atas keberaniannya mulai tidur sendiri.

Keempat, saat bangun tidur pagi pada masa awal ananda mulai tidur sendiri, berikan kata-kata yang bernuansa memuji (rewarding) dan meneguhkan (afirmatif). Dari waktu ke waktu secara bertahap, dengan kesabaran dan dukungan yang berkesinambungan diharapkan langkah-langkah itu bisa membantu ananda untuk mengubah kebiasaan lamanya. Demikian, semoga bermanfaat.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 6 Tanggal 7 Februari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*