Artikel Terbaru

St Gregorius III: Paus Pejuang Melawan Ikonoklasme

Paus Gregorius III
[ancamde.academic.ru]

HIDUPKATOLIK.com – Ia dengan tegas menentang kaisar dan memegang teguh tradisi penghormatan benda-benda suci dalam Gereja. Paus terakhir dari luar Eropa sebelum terpilihnya Paus Fransiskus.

Roma, 11 Februari 731, terjadi momen bersejarah dalam Gereja. Bapa Suci Gregorius II mangkat. Upacara pemakamannya segera dilaksanakan pada hari itu. Saat dihelat prosesi pemakaman, klerus dan rakyat Roma tiba-tiba memilih imam yang bertugas di Gereja St Chrisogonus, Roma sebagai penggantinya. Konon, ia dipilih secara aklamasi.

Meskipun pemilihan Paus baru berlangsung cepat, proses inagurasinya tak serta merta bisa langsung digelar. Kaum klerus dan rakyat Roma harus minta persetujuan dari para uskup Gereja Timur di Ravenna. Tak heran jika lebih dari sebulan upacara inagurasi ditunda. Akhirnya pada 18 Maret 731, ia baru naik takhta sebagai Penerus Takhta St Petrus.

Inilah salah satu Paus yang fenomenal dalam sejarah, Bapa Suci Gregorius III. Reputasinya dalam bidang intelektualitas dan keutamaan hidup kristiani begitu melegenda. Dialah Paus terakhir dari luar Eropa, sebelum akhirnya putra Gereja kelahiran Bumi Argentina, Amerika Latin, Paus Fransiskus terpilih pengganti St Petrus. Hampir 13 abad, Gereja baru mendapat Gembala Tertingginya dari luar Eropa.

Paus Gregorius III merupakan putra berdarah Siria. Ayahnya, Yohanes berasal dari keluarga Siria. Tak banyak kisah yang dapat memotret masa kecilnya. Bahkan kapan ia lahir pun tidak diketahui.

Menentang Kaisar
Masa kepausan Gregorius III ditandai perjuangan melawan ikonoklasme. Ikonoklasme adalah gerakan anti penghormatan atau pemujaan terhadap gambar, lukisan, patung yang menggambarkan figur-figuresuci dan seni religius lainnya, yang muncul di Kekaisaran Binzantium dan Gereja Timur. Gerakan ini ditandai dengan Penghancuran karya seni religius, penganiayaan dan tindak kekerasan kepada orang-orang yang memegang teguh tradisi Gereja untuk menghormati karya seni religius. Dalam hal ini, Paus yang baru saja terpilih itu melanjutkan kebijakan para pendahulunya dalam berjuang menegakkan tradisi Gereja.

Paus Gregorius III menempuh jalur diplomasi. Ia mengirimkan surat dan banyak utusan berkali-kali kepada Kaisar Binzantium, Leo III (717-741), yang melarang penghormatan kepada ikon-ikon suci. Naas, para utusan Paus justru ditahan sang kaisar. Menanggapi hal ini, Bapa Suci menggelar dua Sinode di Roma tahun 731. Dua sinode itu mengutuk perbuatan yang menodai, melecehkan, dan merusak tradisi penghormatan kepada benda-benda suci. Sinode juga menyebut para ikonoklas (pelaku ikonoklasme) sebagai heretik.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*