Artikel Terbaru

Imamat

HIDUPKATOLIK.com – Hukum Gereja menyatakan bahwa mereka yang mampu mengemban kuasa kepemimpinan adalah mereka yang dipilih dan ditetapkan oleh Allah di dalam Gereja, dan menerima tahbisan suci. Mereka adalah para imam yang karena tahbisan kudus menerima ikatan suci dengan Kristus, Sang Imam Agung dan memiliki kuasa yurisdiksi. Kepemimpinan imam tertahbis mesti dijalankan beriringan bersama umat awam yang juga memiliki sifat kepemimpinan berkat Sakramen Baptis, membangun Gereja Kristus di dunia. Jati diri seorang imam adalah membangun Gereja dan masyarakat dunia.

Anugerah imamat tidak melulu mengalir “dalam” Gereja. Ia juga harus meluap sampai ke masyarakat. Tugas imam sebagai pemimpin adalah menghadirkan Kristus, bukan saja di dalam Gereja, tetapi berada di garis depan Gereja, menghadirkan wajah Kristus di tengah masyarakat dunia. Demikianlah yang ditegaskan Dekrit Presbyterorum Ordinis bahwa imamat bukan hanya terarah kepada Gereja lokal, melainkan juga Gereja Universal. Dalam rahmat imamat terkandung cita-cita, sekaligus tugas perutusan untuk melibat dalam membangun tatanan masyarakat yang lebih baik, bonum publicum.

Meneladan kepemimpinan Yesus Kristus, seorang imam memiliki sifat khas sebagai Gembala Yang Baik, yang mendampingi, mengarahkan, dan menuntun kawanan domba serta masyarakat mencapai kekudusan. Kekudusan Gereja bersumber kepada kesucian Yesus Kristus, serta keluhuran nilai-nilai cinta kasih Allah. Amalan cinta kasih merupakan syarat mutlak menyatu dengan Kristus.

Merayakan anugerah imamat berarti juga merayakan kehadiran dan kepemimpinan Allah yang penuh cinta kasih terlibat dalam karya keselamatan di dunia saat ini. Allah yang selalu hadir dalam suka dan duka, kegembiraan dan kecemasan masyarakat dunia.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 31 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*