Artikel Terbaru

Pasrah Kepada Kehendak Allah

Uskup Agung Jakarta dan Uskup Ordinariat Militer Indonesia Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
[HIDUP/Y. Prayogo]

HIDUPKATOLIK.com – Panggilan kadang dipicu dari hal sederhana, namun di situlah Tuhan berkarya. Pasrah kepada Tuhan adalah cara merawat panggilan itu.

Mgr Ignatius Suharyo merayakan tahbisan imamatnya yang ke-40, 26 Januari 2016. Menyongsong peringatan itu, HIDUP berkesempatan mewawancarai Mgr Suharyo, Sabtu, 16/1. Berikut petikannya:

Apakah menjadi imam merupakan cita-cita Bapak Uskup sejak kecil?
Cita-cita saya sejak SD ingin menjadi polisi. Suatu hari, ketika bertugas menjadi misdinar di gereja, seusai Misa, saya ditanya oleh pastor yang memimpin Misa yaitu Romo Hol thuyzen SJ. “Apa kamu mau masuk Seminari?” Tidak tahu kenapa, jawaban saya kok “Iya!”

Romo itu kemudian menghubungi Bapak Ibu saya dan mulailah saya tes dan diterima di Seminari Mertoyudan. Sebagai anak kecil lulusan sekolah rakyat yang berumur 11 tahun, saya belum mengerti apa-apa. Saya hanya ikut-ikutan saja.

Apakah dalam keluarga, orangtua Monsinyur selalu mendorong anak-anak untuk rajin berdoa?Yang saya ingat yaitu doa keluarga. Doa keluarga itu pasti tidak akan terjadi jika orangtua saya itu tidak aktif memulai. Yang sangat penting menurut saya adalah keyakinan orangtua saya bahwa anak-anak itu titipan Tuhan. Itu bagi saya ungkapan dari kesadaran iman orangtua saya yang sangat mendalam. Bagi ayah saya, apa pun yang akan terjadi pada anak-anaknya semua terserah kepada Tuhan.

Siapa yang mendorong Monsinyur memilih menjadi imam diosesan?
Waktu saya kelas tujuh, artinya tahun terakhir di Seminari Menengah Mertoyudan di desa saya mulai ada Pastor. Sebelumnya, Pastor Parokinya tidak ada. Namanya Romo Laurentius Wiryodarmojo. Saat itu sangat menarik, karena sebelumnya tidak ada Pastor. Beliau sangat kreatif, giat, dan orangnya baik.

Pada waktu itu sedang marak huru-hara Partai Komunis sehingga banyak baptisan. Romo itu sangat sibuk, tapi tidak kenal lelah. Waktu itu saya juga mencoba mendaftar ke tarekat tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya memutuskan menjadi Imam Projo Keuskupan Agung Semarang dan saya ingin menjadi Pastor Paroki seperti Romo Laurentius Wiryodarmojo.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*