Artikel Terbaru

Pelayan yang Setia dan Rendah Hati

Saling mendukung: Mgr Suharyo saat memimpin Misa bersama Paguyuban Lingkaran Sahabat.
[NN/Dok.PaLingSah]

HIDUPKATOLIK.com – Panggilan imamat ia hayati dengan setia dan rendah hati. Dukungan keluarga dan orang sekitar mengiringi langkahnya menapaki pancawindu imamat.

Medio April 2013, tampak para alumni Seminari Menengah Mertoyudan dan Seminari Tinggi St Paulus Kentungan mengikuti Misa Paguyuban Lingkaran Sahabat (Palingsah) di Condet, Jakarta Timur dipimpin Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo. Palingsah merupakan komunitas pertemanan alumni seminari dengan Mgr Suharyo. Komunitas ini berawal saat Mgr Suharyo ditunjuk sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2009.

Raphael Warsito, teman seangkatan Mgr Suharyo di Mertoyudan mengungkapkan, sosok Mgr Suharyo tidak berubah, di seminari hingga sekarang. “Mgr Suharyo adalah sosok yang rendah hati, halus, pandai, pendiam, sederhana dan berbela rasa. Ia juga merupakan pemain badminton yang handal,” ujar umat Paroki St Thomas Kelapa Dua, Depok, Keuskupan Bogor ini.

Panggilan Pelayanan
Romo Wiryono Priyotamtama SJ, satu angkatan di atas Mgr Suharyo di Mertoyudan. Ia mengungkapkan, perjalanan imamat Monsinyur sangat didukung doa-doa dari orangtua dan saudara-saudaranya. “Doa ini sumber ucapan syukur yang tiada henti dan tumpuan harapan akan kekuatan rahmat bagi yang menjalani panggilan imamat. Mgr Suharyo merupakan gembala yang mampu memberi kesejukan sekaligus kehangatan dalam setiap perjumpaan,” katanya.

Mengenang kebersamaan di Mertoyudan, Romo Wiryono mengisahkan, ia masuk angkatan 1960, sementara Mgr Suharyo pada 1961. Ia mengenal Mgr Suharyo lebih dekat karena menjalankan opera (bersih-bersih) bersama, juga saat kor.

Pengalaman menarik yang dikenang Romo Wiryono adalah ketika ia kelas lima dan dipercaya menjadi bidel Medan Madya dengan tugas khusus membunyikan bel untuk seluruh kompleks Seminari Mertoyudan setiap pergantian acara. “Monsinyur mengejek saya dalam bahasa Jawa:‘Tur-tur ndang dibel. Pancen batur siji iki sregep tenan.’ Tur-tur diambil dari kata batur yang berarti pelayan. Tentu saja saya tidak merasa direndahkan dengan canda itu,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*