Artikel Terbaru

Pengasuhan Double Bind

[guardian.co.uk]
Pengasuhan Double Bind
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bapak/Ibu Pengasuh Yth,
Salam sejahtera. Perkenalkan, saya ibu rumah tangga, dengan dua anak (yang sulung, perempuan usia 8 dan si bungsu, laki-laki usia 6 tahun). Sudah beberapa waktu ini saya merasa kewalahan menghadapi sikap dan perilaku bungsu saya. Dia temperamental, bila marah suka membanting barang; terutama perkakas pecah belah. Sedikit saja kecewa, dia ngambek, uring-uringan, dan marah pada saya, kakaknya dan pembantu. Kalau saya tegur, dia selalu balik menuding saya dan berteriak:”Mama jahat…!!, Aku benci kamu!!”, Nanti kubilang ke papa…!!”. Selalu begitu, dan biasanya terus menangis sambil menjelempahkan dirinya di lantai, merontaronta dan memukul-mukulkan tangannya. Padahal, cara menegur saya biasa-biasa saja. Saya sangat jarang menegur dengan nada marah. Sikap dan perilakunya berkebalikan dengan si sulung, yang sejak kecil hingga sekarang pembawaannya tetap tenang, patuh, suka mengalah dan tidak pernah bikin onar. Waktu kecil, anak bungsu saya itu tidak temperamental, dan mudah diatur. Seingat saya, dia mulai berubah menjadi seperti ini sekitar enam bulan yang lalu. Kurang lebih itu bersamaan dengan waktu mulai seringnya suami saya tugas di luar kota. Memang dia lebih dekat dengan suami saya ketimbang dengan saya.

Hadirnya si bungsu yang kebetulan laki-laki memang memenuhi impian kami, terutama impian suami. Nah, saat si bungsu marah-marah, dan kebetulan suami saya sedang tugas di luar kota; selalu dia minta ditelponkan ke suami saya. Biasanya di telpon dia mengadu pada suami saya. Setiap kali sehabis anak bungsu saya mengadu dan mengeluh via telpon, biasanya suami menegur saya; setengahnya menyalahkan saya yang tidak bisa mengambil hati si bungsu. Kalau sudah begitu, saya sering diam saja, tak menyanggah semua yang dikatakan suami saya itu, meski dalam hati jengkel. Kalau suami saya pas di rumah, si bungsu sepertinya memang makin menunjukkan kemanjaannya dan mau menangnya sendiri. Suami saya nampaknya juga terlalu memanjakannya, semua permintaan si bungsu selalu dituruti. Bila saya mengingatkan hal-hal tertentu yang disepelekan si bungsu (misalnya, kalau mau tidur gosok gigi dulu, nonton tv-nya jangan terlalu malam, jangan makan di tempat tidur, jangan membeli makanan yang mengandung MSG, dsb), suami saya langsung campur tangan membelanya di depan si bungsu. Jadinya, bila suami pas di rumah beban saya jadi tambah: beban menghadapi si bungsu, dan menghadapi suami yang menurut saya kurang bijak mendidik anak. Dalam hati saya kadang mau mengingatkan suami saya, tapi setelah saya timbang-timbang saya selalu urung melakukan itu. Sejak pacaran sampai menikah dan dikaruniai anak, saya memang tidak pernah berani menegur dan menyangkal apa pun yang dikatakan suami saya. Saya juga menimbang, beban pekerjaan suami sudah berat, lagi pula dia adalah satu-satunya tulang punggung kehidupan keluarga. Tetapi, dengan terus membiarkan semua seperti ini rasanya saya jadi makin khawatir, terutama dan khususnya tentang perkembangan karakter anak bungsu saya. Mohon saran Bapak/Ibu pengasuh, apa yang mestinya saya lakukan menghadapi situasi ini. Terima kasih.

Ny. Y di kota Bt.

Ibu Y, Salam sejahtera juga. Langsung saja saya menanggapi surat Ibu dengan titik tolak dari yang Ibu katakan sebagai ”beban menghadapi si bungsu, dan suami…”. Marilah kita lihat dengan jernih urutan urgensi masalahnya. Pertama, memang ada situasi yang perlu segera diatasi terkait dengan sikap dan perilaku si bungsu seperti yang terpapar itu. Kedua, kebiasaan sikap dan tindakan suami, yang dalam hal ini bisa jadi memang sangat berkaitan dan bahkan berekses pada masalah yang pertama. Ibu mendeteksi bahwa perubahan temperamen dan kebiasaan si bungsu berubah sejak enam bulan yang lalu, seiringdengan berubahnya ritme mobilitas fisik yang terjadi pada suami terkait urusan pekerjaan. Bertugas di luar kota, bagi suami mungkin menimbulkan beban psikologis terkait dengan keniscayaan harus berpisah dan meninggalkan si bungsu meski hanya untuk beberapa waktu. Ini ada kaitannya dengan makna si anak bungsu yang kebetulan laki-laki bagi suami Ibu. Rasa ”berhutang” kebersamaan dengan si bungsu, secara tak disadari menimbulkan upaya suami untuk selalu mengkompensasinya dengan perlakuan khusus/istimewa, setiap kali beliau tidak sedang bertugas di luar kota. Sementara, Ibu yang selalu di rumah mendampingi kedua anak, sudah sejak mula mengasuh secara wajar. Si bungsu, sebagai anak yang masih dalam usia peka bagi perkembangan awal individualitasnya (yang biasanya diikuti oleh kecenderungan serba egosentris); sedikit banyak merasakan adanya ”perbedaan” perlakuan antara yang diberikan oleh ayah dan oleh ibunya. Perlakuan dari figure ayah lebih permisif, dan dalam beberapa hal berseberangan dengan yang diberikan oleh Ibu. Penyikapan dan perlakuan adalah operasionalisasi dari pengasuhan. Maka bila hal itu berbeda (atau bahkan bertentangan) antara yang diterima dari ayah dan dari ibunya; anak mengalami standar ganda pengasuhan. Situasi serta model pengasuhan ini dalam istilah psikologi maupun psikiatri disebut sebagai ”double bind”. Arti praktisnya: anak menerima pesan yang bertolak belakang dari orangtua berkaitan dengan perilaku, sikap maupun perasaannya. Anak mengalami kebingungan untuk menentukan mana yang harus diikuti. Ada semacam ”keterbelahan” dalam hal matra bagi perasaan, pikiran dan tindakannya. Namun karena kebetulan si anak masih dalam pusaran fase egosentris, maka yang lebih dipilihnya adalah yang ”menyenangkan”. Apa pun yang dirasa tidak menyenangkan akan dijaraki dan ditolak. Modus penolakannya bisa manifest dalam (dan berkembang menjadi) perilaku-perilaku yang bersifat agresif, isolatif maupun eskapis (lari dari kenyataan).

Menghadapi ini, bisa dipahami bila Ibu merasa khawatir dengan perkembangan si bungsu. Tetapi menurut saya, sikap khawatir Ibu sebenarnya merupakan ungkapan sikap waspada yang proporsional. Sebelum situasi berlanjut, masih terbuka kesempatan lebar untuk mengubahnya mumpung anak masih kecil. Ibu perlu segera memulai babak baru dalam pola dan kebiasaan berkomunikasi dengan suami. Saya yakin, Ibu sudah paham siapa suami Ibu; sehingga dari mana komunikasi bisa/harus dibuka Ibu pun tentu tahu. Setelah itu, bisa dilakukan beberapa langkah lanjutan, yakni: ajak suami secara khusus mendiskusikan situasi urgen yang tengah terjadi pada diri si bungsu, lakukan kesepakatan tentang pola pengasuhan beserta operasionalisasinya sejak dari penyikapan hingga perlakuan terhadap anak, ajaklah kedua anak untuk terlibat dalam menentukan kesepakatan (tentunya disesuaikan dengan alam pikiran anak), upayakanlah untuk secara konsisten menerapkan kesepakatan tersebut dalam pengasuhan sehari-hari, dan agendakan kegiatan intern keluarga secara periodik (perayaan ultah anggota keluarga, rekreasi, sharing) untuk membangun dan menumbuhkembangkan kekompakan sebagai keluarga. Bila Ibu merasa belum mampu melakukan tahap-tahap itu, libatkan pihak profesional (konselor, psikolog) untuk memfasilitasinya.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 24 Tanggal 13 Juni 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*