Artikel Terbaru

Jatuh Cinta pada Sahabat

[apartmenttherapy.com]
Jatuh Cinta pada Sahabat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yth, Saya bersahabat dengan seorang wanita. Kami bekerja sekantor sebagai guru SMP swasta di kota S. Dia sudah berkeluarga, berputra satu, dan suaminya adalah kepala sekolah kami.

Persahabatan kami sudah terjalin sejak empat tahun lalu. Hal itu berawal saat kami sama-sama mengikuti rekoleksi. Ketika sesi sharing, kami kebetulan satu kelompok. Saya merasa ada banyak kecocokan dengan dia dalam memandang berbagai hal. Sejak itulah, kami (sebenarnya sayalah yang memulai) sering melakukan kontak, baik melalui sms maupun telpon seluler. Dengan kontak-kontak itu, semula tak ada maksud saya menjurus ke upaya pendekatan pribadi bermotif asmara. Namun seiring dengan waktu, diam-diam saya mulai merasakan berseminya ‘perasaan khusus’ terhadap dirinya, lebih dari sekadar perasaan dekat terhadap sahabat. Perasaan khusus itu terus saya sekam. Makin keras saya meredam justru kian mendalam. Seperti ombak besar yang meremukkan batu karang di hati saya. Menjelang Natal 2009, saya tak kuat lagi menyimpan perasaan itu. Akhirnya, saya ungkapkan kepadanya. Waktu itu, tak terpikir sama sekali ekses-eksesnya. Hanya satu hal yang mendasari dan mendorong tindakan saya, saya harus berani sejujurnya mengungkapkan perasaan hati. Dia sangat terkejut, dan mengatakan bahwa pengakuan saya sangat mengusik kedamaian hidupnya. “Akhirnya, terjadi juga hal yang kukhawatirkan selama ini…” Itu kata-kata terakhir yang terlontar darinya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, tanpa menunggu tanggapan saya dia langsung pergi. Hari-hari selanjutnya dia menjaga jarak, bahkan menjauhi saya hingga saat ini. Beberapa kali saya berupaya menemuinya, minta waktu untuk mengkonfirmasi maksud kata-kata tersebut, namun dia selalu menjawab belum ada waktu longgar. Saya coba lagi melalui telpon, juga melalui sms, namun tak ditanggapi. Ya sudah, kini saya tak hendak lagi meminta untuk bertemu meskipun masih penasaran. Seandainya saja bisa bertemu empat mata, saya hanya ingin melakukan rekonsiliasi atau tepatnya reposisi untuk meengembalikan posisi relasi persahabatan di antara kami. Meskipun di sisi lain, saya juga merasa tak yakin apakah dia masih peduli dan bersedia untuk itu. Bila begitu jadinya, saya pun tidak akan mempermasalahkan lagi. Semua ini gara-gara sikap tidak tahu diri di pihak saya. Hanya saja saat ini sebenarnya masih ada beban yang rasanya terus memusar tanpa ujung. Saya merasa bersalah. Pertama, secara pribadi saya merasa telah menciderai persahabatan kami selama ini. Saya dengan gegabah telah membelokkan relasi persahabatan menjadi asmara secara sepihak.

Kedua, secara tidak langsung saya telah… mengkhianati suaminya, yang nota bene adalah kepala sekolah (atasan) saya. Secara pribadi, saya menghormati integritas diri sahabat saya, dia tetap kukuh pada komitmen dan janji setianya pada suaminya. Tentang sikapnya yang semakin menjauhi saya, saya bisa memahami. Barangkali itu cara yang paling niscaya, karena mungkin tak ada cara lain yang dirasa cukup efektif untuk menyikapi diri saya yang telah bertindak kurang etis terhadapnya.

Hal yang ingin saya tanyakan, apa dan bagaimana mengatasi rasa bersalah saya atas dua hal tersebut di atas? Terima kasih.

WD di kota S.

Sdr WD, sebelumnya saya minta maaf, terpaksa meringkas surat Anda yang sangat panjang. Di surat itu, Anda begitu detil “melaporkan” kronologi perguliran dari sejak sebelum, saat pengungkapan perasaan khusus Anda kepada sahabat itu, hingga hal-hal yang terjadi setelahnya.

Kisah asmara dengan segala episode seputarnya yang dialami sebagian orang nyatanya memang unik, rumit, dan sering sulit diargumentasikan secara objektif. Yang dialami (dan dilakukan) seseorang seringkali berbeda dengan yang dipahami oleh orang lain. Ketika orang berurusan dan tercebur dalam momen jatuh cinta, yang dominan berkiprah adalah perasaan subjektif.

Pikiran yang sering diidentikkan dengan kejernihan rasio dan bersifat objektif (memenuhi kriteria pandangan dan keyakinan kebanyakan orang), seringkali agak (atau bahkan) tergeser perannya. Ini wajar saja karena kenyataan riilnya, momen-momen jatuh cinta memang lebih menyatu dengan gelombang perasaan. Banyak orang jatuh cinta, terjadi begitu saja tanpa direncanakan dan juga bukan hasil siasat dari pikiran kritis.

Bila dipandang dan ditempatkan secara netral, perasaan yang terjadi saat orang jatuh cinta adalah pengalaman terbuka yang belum pasti batas-batas definitifnya. Banyak orang yang mengalami perasaan ini, membiarkannya meraja lela, dan diam-diam menikmatinya sebagai bagian dari keindahan romansa kehidupan dalam arti yang lebih luas dari hasrat melokalisasi secara fisik menjadi milik pribadi. Mereka merasa cukup hanya dengan memiliki perasaan itu secara personal, dan tidak pernah mengungkapkannya kepada subjek targetnya; bahkan sampai mati.

Tetapi, tak sedikit pula yang semula hanya merasakan getaran pesona terhadap dan dari seseorang, kemudian merasuk di zona perasaan semakin dalam dan memusar menjadi hasrat memilikinya secara definitif dalam wujud fisik dan eksklusif. Alasan di balik dua ragam sikap personal tersebut bisa beragam: harga diri, taraf asertivitas, intensitas dorongan hormonal seksual, pertimbangan prinsip-prinsip, etika, nilai-nilai hidup dan kehidupan yang diyakini seseorang. Alasan-alasan itu bisa pilah dengan urutan tertentu, pun bisa kombinasi di antaranya dengan komposisi yang beragam.

Yang Anda lakukan cenderung termasuk dalam kategori yang kedua, dan alasan di balik itu hanya Anda yang tahu.

Tentang beban rasa bersalah atas dua hal di atas, berikut tanggapan saya:

Anda merasa telah menciderai persahabatan, yakni membelokkan relasi persahabatan menjadi bermotif asmara secara sepihak. Bila diandaikan “pembelokan” itu terjadi karena tidak secara sepihak (bertepuk dua belah tangan) dan tak terkait dengan beban ke-2, tentunya Anda akan lebih mudah mengatasi rasa bersalah.

Banyak pasangan suami-istri dulunya adalah dua orang yang saling bersahabat. Ella W. Wilcoc (dalam Chicken Soup for The Soul: Love Stories, 2010) mengemukakan, semua cinta yang tidak memiliki persahabatan sebagai dasarnya, akan seperti istana yang dibangun di atas pasir.

Namun, bila hal itu terjadi sepihak dan terkait dengan perasaan telah mengkhianati suami sahabat, bisa dipahami rasa bersalah Anda lebih dalam. Modus ideal untuk sarana mengatasinya adalah meminta maaf secara langsung dengan sahabat Anda.

Tentang rasa bersalah terhadap suami sahabat, bila Anda tahu persis sejauhmana “peta” implikasi dari tindakan Anda mengungkapkan perasaan itu terhadap dia, idealnya ya Anda sampaikan permintaan maaf kepadanya. Tetapi, bila sejauh ini komunikasi dengan sahabat itu tetap belum/tidak dimungkinkan, maka Anda bisa meminta maaf lewat diri sendiri. Yang lebih penting adalah substansi dari keputusan dan intensi meminta maaf itu sendiri, bukan demonstrasi ritual formalnya. Kesungguhan tentang ini, jaminannya ada di hati terdalam Anda.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 22 Tanggal 30 Mei 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*