Artikel Terbaru

Perilaku Bullying

[bornstoryteller.wordpress.com]
Perilaku Bullying
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBpk/Ibu Pengasuh yth, Beberapa waktu lalu, saya ditelepon oleh Kepala Sekolah tempat anak saya belajar. Intinya, saya selaku wali murid diminta menyempatkan waktu datang ke sekolah untuk membicarakan kasus anak saya. Menurut beliau, anak nomor 2 saya itu (sekarang kelas 3 SD) sering melakukan tindakan“bullying” di kelas. Saya tidak tahu apa artinya bullying, tetapi saya tidak menanyakannya kepada beliau. Saya sudah malu, karena beliau mengatakan bahwa anak saya suka mengganggu teman-temannya, sering berkata-kata kasar, suka memukul, dan menendang beberapa temannya.

Pada beberapa teman putri, dia sering menjambak, juga meludahi. Karena kebiasaan buruknya itu, sekarang temannya sedikit. Padahal, setahu saya, anak itu biasa-biasa saja. Kedua anak saya (dia dan kakak perempuannya yang kini kelas 6) memang saya titipkan di rumah kakek-neneknya di kota Y, karena saya sebagai karyawan perusahaan pertambangan, sejak sebelum menikah sudah ditugaskan di luar Pulau Jawa.

Setiap tiga minggu sekali saya mendapat cuti pulang ke Jawa. Istri saya sedang menempuh tugas belajar di luar negeri. Saya sudah tanyakan kepada kakek dan neneknya (kedua mertua saya) bagaimana kebiasaan anak saya itu di rumah kalau saya tidak di rumah.

Katanya, ya biasa-biasa saja, hanya memang wataknya pendiam. Ia memang kurang tekun belajar, kesukaannya main game dan nonton tv. Kalau ditegur suka ngambek, sehingga kakek dan neneknya lebih banyak membiarkan daripada ia ngambek.

Hal itu berbeda dengan kakaknya yang rajin belajar dan selalu dapat rangking di kelas. Yang ingin saya tanyakan kepada Bapak/Ibu pengasuh:

1 Apa yang dimaksud tindakan “bullying” itu, dan apa kira-kira yang bisa menyebabkan hal itu?
2 Apakah anak saya termasuk mengalami gangguan kejiwaan?
3 Bagaimana menanganinya? Terima kasih.

Bpk G di KT

Catatan: Surat senada juga dikirim oleh Ibu S di kota P, yang mengajukan pertanyaan no.1 dan no. 3 di atas.

Salam sejahtera untuk Bpk G Yth, juga untuk Ibu S Yth di kota P.

Menurut sebuah referensi, istilah/sebutan ”bullying” kemungkinan ada hubungannya dengan kata ”bull”, yaitu sapi jantan yang suka mendengus. untuk mengancam, menakuti-nakuti atau memberi tanda kepada sapi lain. Perilaku bullying di kalangan anak-anak biasanya mencakup tindakan melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban, terutama yang dianggap lemah atau tak berdaya.

Bentuknya antara lain bisa berupa: penyerangan fisik (memukul, menendang, mendorong, menjambak, dsb), verbal (mengejek, menyebarkan isu buruk, menjuluki korban dengan sebutan buruk (bhs Jawa: ”paraban”), emosi (mengancam, menghina), penyerangan rasial (mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dsb), dan penyerangan/pelecehan seksual (mengolok terfokus ke hal-hal seksual, meraba, mencium, dsb). Para pelaku pada umumnya memiliki beberapa kecenderungan, seperti suka mendominasi, suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan, ketidakmampuan melihat situasi dari sudut orang lain, egosentrisme (hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri), tidak peka terhadap perasaan orang lain, suka menyakiti anak lain ketika tidak ada orangtua atau orang dewasa lainnya, memandang orang lain (saudara-saudara, teman sebaya) yang lebih lemah sebagai sasaran, sikap tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya, dan biasanya suka mencari perhatian orang lain.

Akibat bullying pada pihak korban, bisa merentang dari sekadar rasa cemas, perasaan terbuang, inferioritas, merosotnya motivasi dan prestasi belajar, gangguan sosial, serta gangguan psikologis lainnya.

Menurut hasil riset-riset di lapangan psikologi, penyebab perilaku bullying bisa beragam. Bisa faktor internal si pelaku, lingkungan (pergaulan, sekolah), maupun keluarga (pengasuhan, problem psikologis orangtua, disfungsi keluarga). Faktor internal individu pelaku sering dikaitkan dengan kecenderungan kepribadian, pengalaman penelantaran (abuse), dan kondisi frustrasi. Reaksi terhadap frustrasi bisa berupa: perilaku menghindari situasi yang menyebabkan frustrasi tersebut, apatis (sikap tak peduli), dan perilaku agresi (termasuk bullying).

Lingkungan bisa berpengaruh terhadap munculnya bullying, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sosiokultural, bullying dipandang sebagai wujud rasa frustrasi akibat tekanan hidup dan hasil imitasi dari lingkungan orang dewasa. Tanpa sadar, lingkungan memberikan referensi kepada anak bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah cara pemecahan masalah.

Rumah tangga yang diwarnai dengan “romantika” kekerasan (entah antarorangtua atau terhadap anaknya) bisa berdampak pada anak. Anak belajar bahwa kekerasan adalah semacam “modus” menjalani hidup yang merupakan bagian dari dirinya, sehingga wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Rendahnya perhatian dan pendidikan anak dalam keluarga pun bisa berpengaruh. Keluarga berpendapatan rendah, menengah, dan atas umumnya menjadikan kesibukan dengan kegiatan suami-istri sebagai alasan, sehingga pendidikan dalam keluarga kurang intensif.

Pola asuh orangtua yang serba memanjakan atau sebaliknya serba membatasi, juga bisa membawa ekses pada anak, misalnya dalam bentuk munculnya perilaku bullying. Selain itu, bila orangtua mengalami problem psikologis yang serius (disfungsi peran orangtua) apalagi bila itu berlarut-larut, bisa mempengaruhi pola hubungan dengan anak. Orangtua yang stres berkepanjangan, jadi sensitif, kurang sabar, dan mudah marah pada anak, atau melampiaskan kekesalan pada anak.

Lama-kelamaan kondisi ini mempengaruhi kehidupan pribadi anak. Anak bisa mengadopsi pola ekspresi emosi yang temperamental. Penyebab perilaku bullying di kalangan anak-anak, bisa didominasi oleh salah satu faktor, maupun oleh kombinasi beberapa faktor tersebut. Dalam ilmu perilaku, bullying termasuk gangguan psikologis yang perlu diwaspadai, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Untuk Bpk G dan Ibu S, tidak perlu merasa bahwa hal-hal yang saya paparkan tersebut “berlaku” secara persis pada diri putra-putra Anda. Yang perlu Bapak dan Ibu cermati, seberapa seriuskah perilaku putra-putra Anda dalam memperlakukan beberapa teman-temannya? Mungkin yang terjadi pada putra-putra Anda (semoga) baru tingkat awal (gejala-gejala mula perilaku bullying).

Bila ternyata, apa yang dilakukan putra-putra Anda berdua ditengarai sudah termasuk layak disebut perilaku bullying, hendaklah jangan menekankan kesalahan hanya pada satu pihak (terutama anak). Karena sebenarnya dalam setiap perilaku bullying setidaknya ada tiga pihak yang berperan: penindas (pelaku), tertindas (korban, yang biasanya tak berdaya), dan penonton (bystander) yang membiarkan. Untuk bisa mengetahui itu secara apa adanya, juga untuk mengatasinya, Bapak dan Ibu perlu bekerjasama dengan pihak sekolah (guru wali, guru BP, kepala sekolah), dan bila sekiranya perlu, berkonsultasi dengan pihak profesional (konselor, psikolog) akan sangat membantu.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 27 Tanggal 4 Juli 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*