Artikel Terbaru

Saatnya Pendidikan Seks Dimulai

[religionlink.com]
Saatnya Pendidikan Seks Dimulai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa hari terakhir ini, kita dikejutkan oleh tayangan video porno yang mirip dengan tiga pesohor di Indonesia. Setiap orang tanpa kecuali, saya yakin pasti penasaran tentang hal tersebut dan beramai-ramai berusaha memenuhi rasa penasarannya dengan berbagai macam cara.

Hal ini juga terjadi di tempat kami. Video tersebut menjadi bahan perbincangan yang menarik karena dipenuhi rasa ingin tahu tentang mengapa dan bagaimana, dan berbagai pertanyaan seputar hal tersebut.

Sebenarnya bagi kita yang dewasa, tayangan tersebut tentu saja tidak terlalu berefek banyak karena secara rasional kita telah mampu menimbang dan mengkaji untuk kemudian memutuskan untuk apakah akan mengonsumsi tayangan tersebut lebih banyak atau hanya sekadar memenuhi rasa ingin tahu dan berhenti begitu saja.

Namun, bagaimana jika anak-anak kita yang masih di bawah umur menyaksikannya dan kemudian dengan sifat khasnya yang begitu ingin tahu mengeksplorasi lebih banyak dan lebih banyak lagi. Saya yakin, kita semua sebagai orangtua pasti sangat khawatir dengan situasi ini.

Kekhawatiran ini tidak sekadar kita sebagai orangtua, namun banyak guru di berbagai tempat juga was-was dengan hal tersebut untuk kemudian menggeledah handphone para siswa. Sebagaimana telah diduga sebelumnya, banyak siswa yang menyimpan adegan tersebut di handphone mereka.

Tayangan tersebut tentu saja tidak hanya bisa disaksikan lewat internet, namun secara sekilas banyak infotainment juga menyajikan meski secara sepotong-potong dengan gambar yang dikaburkan. Tentu saja ini justru membuat banyak orang semakin penasaran karena meski sudah dikaburkan, toh gambar tersebut masih bisa sekilas terlihat. Karena hanya sekilas justru membuat orang semakin penasaran. Terlebih hal itu ditayangkan berulangkali lewat televisi di mana anak-anak juga menyaksikannya ketika kita tidak berada di rumah. Siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan melihatnya lewat televisi?

Saya pun kaget ketika suatu siang, putra saya nomor 2 (usia 7 tahun) bertanya tentang hal ini. Ia mengomentari, “mengapa si A berbuat tidak sopan?” Saya bertanya, darimana ia melihat gambar tersebut, dengan polos ia mengatakan lewat televisi.

Jika ini semua telah terjadi, lantas bagaimana kita semua sebagai orangtua harus menyikapinya. Kita tentu saja tidak bisa mengharap terlalu banyak bahwa tayangan tersebut akan bisa dihentikan, atau dengan ketat mengontrol anak-anak dengan berbagai peringatan dan ancaman untuk tidak melihatnya.

Jikalau bukan dari kita, mereka bisa saja mendapatkannya lewat teman atau lewat berbagai media. Hal ini yang begitu menggelisahkan orangtua.

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa kita sharingkan untuk menyikapi semua ini karena bisa jadi ini bukan tayangan porno terakhir yang akan hadir di ruang publik kita, tetapi masih akan ada dan ada lagi tayangan lain entah dengan lakon siapa.

• Jangan menunjukkan reaksi berlebihan di depan anak-anak kita. Hal itu hanya akan direspons mereka dengan rasa ingin tahu yang makin berlebih karena melihat orangtuanya begitu panik dan begitu bereaksi. Mencoba bersikap tenang dan berpikir rasional. Ketenangan akan membuat kita bisa berpikir lebih banyak tentang bagaimana harus menjelaskan berbagai pertanyaan anak-anak yang mungkin saja di luar dugaan kita.

• Berpikirlah bahwa inilah saat kita memberikan pendidikan seks kepada anak-anak berapapun usia mereka. Cepat atau lambat mereka akan bertanya dan akan muncul rasa ingin tahu. Dalam hal pendidikan seks, tidak ada batasan usia minimal. Jika mereka sudah bertanya maka sudah saatnya kita memberitahunya.

• Yakinkan diri kita bahwa hanya kitalah sebagai orangtua yang paling berhak memberikan pengetahuan tentang hal itu. Jangan serahkan kepada orang lain terutama kepada teman, infotainment, atau internet, atau media apa pun.

• Ajak bicara secara hati-hati, kaji seberapa banyak mereka tahu, dan tanyakan bagaimana respons mereka, pendapat mereka. Setidak-tidaknya ini akan memberikan arahan kepada kita tentang seberapa banyak kita harus menjelaskannya kepada mereka.

• Jangan terlalu banyak melarang, memberikan peringatan, ancaman bahkan hukuman karena ini tidak akan berefek positif, justru mereka akan makin penasaran. Karena orangtuanya tidak bisa diajak berdiskusi dan mereka juga tidak merasa aman bertanya kepada orangtuanya, maka mereka akan bertanya dan bereksplorasi banyak melalui teman atau media lain yang bisa mereka akses.

• Diskusikan tentang hal itu, apa efek dari semua peristiwa ini. Mendiskusikan mengenai hal ini tentu saja tergantung pada tingkat usia dan pemahaman mereka. Jika anak-anak masih kecil, mungkin menjelaskan seperlunya sudah cukup memadai. Namun, untuk anak-anak kita yang sudah remaja, mungkin menjelaskan dari berbagai sudut pandang seperti nilai-nilai agama, sosial, moral, dan kesehatan akan lebih baik. Dengan demikian, mereka akan mengerti secara lebih lengkap.

• Bagi para guru, melarang dengan ketat dengan melakukan penggeledahan tentu saja kurang bijaksana. Alangkah lebih baik jika sekolah mengundang mereka yang memang ahli untuk menjelaskan tentang berbagai efek tayangan tersebut, baik dari sudut pandang agama, psikologi maupun kesehatan. Remaja sekarang sudah kritis, tentu saja mereka tidak senang jika mendapatkan larangan yang begitu ketat tanpa disertai argumen yang mereka pandang tidak masuk akal.

• Bagi para ibu yang bekerja penuh di luar rumah, melakukan kontrol terhadap berbagai tayangan di televisi juga tentu saja bukan perkara gampang. Lebih baik menjelaskan kepada para pembantu atau siapapun yang kita percaya untuk mengasuh putra-putri kita di rumah tentang tayangan yang boleh dan tidak boleh disaksikan. Memberikan pengertian kepada para pengasuh tentu saja akan baik karena dengan demikian mereka juga akan lebih selektif karena penting bagi anak-anak kita nantinya.

Membahas masalah seks memang terasa enak dan tidak enak, terlebih jika hal itu dilakukan kepada anak-anak. Namun, suka tidak suka, ini merupakan tanggung jawab kita sebagai orangtua. Menganggap ini tabu dan tidak pantas dibicarakan, tentu saja bukanlah langkah bijaksana. Lambat atau cepat, putra-putri kita pasti akan menanyakan dan menaruh perhatian terhadap hal itu. Intinya, sebagai orangtua, hendaknya kitalah sumber informasi yang paling layak diandalkan oleh anak-anak kita. Jangan sampai tanggung jawab ini dilimpahkan kepada orang lain, terutama yang tidak berkepentingan mengenai hal tersebut. Jika kita sendiri sulit mencari jawab, tidak ada salahnya mencari rujukan dari orang yang memang paham dan ahli mengenai hal ini.

Th. Dewi Setyorini

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*