Artikel Terbaru

Posisi Imam Saat Misa

Posisi Imam Saat Misa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKetika berziarah ke Roma Oktober lalu, kelompok kami beberapa kali mengikuti perayaan Ekaristi dengan imam menghadap ke tabernakel atau membelakangi umat. Tidak ada altar di depan tabernakel. Kemudian di Roma, saya juga mendengar berita bahwa mulai Minggu Adven pertama 2016 ini, perayaan Ekaristi dirayakan dengan imam menghadap ke tabernakel, bukan menghadap umat. Apakah berita ini benar? Apa alasan perubahan ini? Apakah ada peraturan baru tentang hal ini?

Theresia Maria Agustyarini, Malang

Pertama, pada 9 Juli 2016, Paus Fransiskus menemui Kardinal Robert Sarah, Prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen. Dua hari kemudian, pada 11 Juli 2016, Juru Bicara Vatikan Romo Federico Lombardi SJ menyatakan bahwa tidak ada pedoman liturgi baru yang mulai berlaku pada masa Adven ini.

Ditegaskan sekali lagi bahwa Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) edisi 2000 tetap masih berlaku dan tidak diganti. PUMR No. 299 mengatur bahwa “altar utama hendaknya dibangun terpisah dari dinding gereja sehingga para pelayan dapat mengitarinya dengan mudah” dan bahwa “imam, sedapat mungkin, memimpin perayaan Ekaristi dengan menghadap ke arah jemaat.”

Paus juga mengingatkan bahwa “bentuk biasa (Ing: ordinary) dari perayaan Misa adalah yang diuraikan dalam Buku Misa yang dipromulgasikan oleh Paulus VI”, yaitu Misa dengan imam menghadap umat. Paus juga menegaskan bahwa bentuk luar biasa (Ing: extraordinary) adalah bentuk yang diizinkan oleh Paus Benediktus XVI, yaitu Misa dengan imam membelakangi umat atau biasanya dikenal sebagai ad orientem yang berarti menghadap ke timur. Pimpinan tertinggi Gereja Katolik ini juga menggarisbawahi bahwa bentuk luar biasa (ad orientem) tidak boleh diubah menjadi bentuk yang biasa, artinya dijadikan praktik biasa sehari-hari. Jadi, pengalaman mengikuti misa ad orientem di Roma tetap merupakan hal yang extraordinary yang kebetulan kalian temukan.

Kedua, masalah tentang posisi imam dalam merayakan Ekaristi ini mencuat sesudah pidato Kardinal Robert Sarah pada Konferensi Internasional Sacra Liturgia di London, Inggris, 5 Juli 2016. Kardinal Sarah ingin agar liturgi Katolik dipusatkan pada Allah dan bukan pada manusia. Liturgi kita terlalu bersifat antropologis.

Kita datang pada perayaan Ekaristi untuk menyembah Allah, bukan merayakan budaya atau identitas diri kita. Salah satu ungkapan penting dari sikap menjadikan Allah pusat ialah jika imam merayakan Ekaristi dengan bersama umat menghadap Allah atau dikenal juga dengan membelakangi umat atau ad orientem. Karena itu, ia mengajak untuk mulai merayakan Ekaristi ad orientem pada awal masa Adven ini.

Namun penjelasan Sri Paus melalui juru bicara Vatikan sudah memperjelas permasalahan ini. Dalam kaitan dengan pidato Kardinal Sarah, juru bicara Vatikan juga mengingatkan agar sebaiknya tidak digunakan istilah “pembaruan atas pembaruan” karena bisa disalahmengerti. Perubahan ad orientem tidak bisa dipaksakan sebagai sebuah revolusi.

Ketiga, baik untuk diperhatikan bahwa pidato Kardinal Sarah adalah sekadar himbauan. Sebagai himbauan, pendapat yang diajukan adalah pendapat pribadi, bukan sikap resmi Gereja Katolik. Tetapi karena jabatannya sebagai Prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, maka himbauan itu mendapatkan bobot lebih.

Perubahan besar seperti itu bisa dipandang sebagai ajaran resmi Gereja jika diungkapkan dalam dokumen resmi yang secara eksplisit mengubah PUMR 299 dan pembaruan-pembaruan lainnya dari Konsili Vatikan II. Polemik tentang posisi imam (menghadap umat atau membelakangi umat) menunjukkan bahwa perubahan-perubahan yang dilakukan sesudah Konsili Vatikan II masih terus membutuhkan pemaknaan teologis yang memurnikan dan memperjelas unsur-unsur liturgi Gereja.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 27 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*