Artikel Terbaru

Demi Anak, Kubertahan

Demi Anak, Kubertahan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo yang baik, kami sudah menikah selama sepuluh tahun. Dua anak hadir dari pernikahan kami. Anak-anak telah duduk di bangku sekolah dasar. Dua tahun lalu, istri saya punya pria idaman lain. Hubungan mereka sudah amat jauh. Saya marah dan berniat melaporkan kepada polisi jika ter jadi kembali. Meski kejadian itu amat membekas sampai sekarang, tapi saya sudah memaafkan istri saya.

Sayang, kejadian terulang lagi. Istri saya mempunyai beberapa skandal. Dia punya hubungan gelap dengan seorang imam. Ia juga berhutang kepada beberapa orang dengan total sekitar 80 juta rupiah. Saya pernah menanyakan kepada istri, dia tak pernah menjawab. Saya ajak dia ngobrol, dia selalu diam dan mendamprat saya dengan kata-kata kasar. Saya ingin bercerai, tapi niat saya urungkan karena memikirkan masa depan kedua anak kami. Apa yang harus saya lakukan, Romo?

Rofinus, Bogor

Saudara Rofinus yang baik, pernikahan yang kalian jalani selama sepuluh tahun adalah pernikahan sakramen yang kudus. Perkawinan beserta perjuangannya, senang-susah, suka-duka, adalah bagian dari cara kalian berdua memuliakan Tuhan. Justru melalui berbagai masalah, seharusnya kalian makin menyadari perlunya saling memperbaiki diri. Perkawinan bukan menemukan hal-hal baik saja, tapi terutama menemukan hal-hal yang makin memperbaiki setelah Tuhan memberi peristiwa bersama yang menantang dan mendidik.

Sayang sekali ada beberapa skandal yang dibuat istri Anda. Akan tetapi, perlu dipastikan apakah hal itu benar atau tidak. Sebagai pasangan suami istri, tidak boleh main tuduh berdasarkan penglihatan dan kesaksian orang lain saja. Anda sebagai suami boleh makin menegakkan antena perasaan agar mempunyai keyakinan akan hal-hal yang dicurigai kepada istri Anda.

Bagaimana dengan masa pacaran Anda? Apakah Anda mengenal sungguh calon istri waktu itu? Memang sekarang bukan saatnya menyalahkan masa lalu, tetapi hal ini sangat penting dilakukan oleh semua pasangan yang akan menikah agar tidak seperti “terkaget-kaget” karena kenyataan dari pasangan dalam kesehariannya. Pasangan jadi seperti orang yang asing dan tidak kita kenal. Ini berbahaya.

Relasi istri yang baik di kalangan orang-orang lain tidak selalu berarti jelek. Barangkali ini menjadi alasan untuk berintrospeksi, apakah Anda sudah menjalankan fungsi sebagai pasangan hidup yang cukup komunikatif, dalam hal seksual, atau dalam banyak hal terkait relasi Anda dengan istri? Sebenarnya, Andalah orang yang paling efektif menyelesaikan masalah kalian berdua. Andalah yang paling tahu mengapa semua ini terjadi. Jika memang istri Anda tergolong pribadi yang mudah jatuh cinta sekalipun, maka Anda perlu tahu dan segera menanggapi dengan mempererat relasi.

Tentu saja perselingkuhan antara istri Anda dengan beberapa orang, termasuk imam, adalah sesuatu yang amat disesalkan. Demikian juga dengan hutang dalam jumlah besar yang dipunyai istri Anda. Bagaimana semua itu bisa terjadi di luar pantauan? Coba jadikan ini sebagai pemicu untuk “membetulkan” perkawinan Anda. Jangan menyalahkan saja, tetapi jadilah subyek yang memulai usaha rekonsiliasi dan mencintai. Bagaimanapun dia adalah istri Anda yang dulu pernah mendapat janji setia dalam suka dan duka bersama Anda.

Janji setia itu memang bukan hanya kepada pasangan, tetapi juga untuk anak-anak. Anda juga berjanji menjadi ayah yang baik bagi mereka. Maka jika sekarang semua pertimbangan dilakukan demi anak-anak, itu sudah pada tempatnya. Selain bahwa masih ada kesempatan untuk melakukan rekonsiliasi. Anda juga perlu membuat usaha pemberesan, terutama dengan istri, dan kemudian dengan orang-orang yang dianggap “potensial mengganggu” kebahagiaan rumah tangga Anda berdua.

Jangan takut bersikap dan melakukan usaha pemberesan, juga kepada imam yang Anda duga mempunyai hubungan dengan istri Anda. Pakailah cara-cara yang elegan dan sopan. Gereja setempat pasti membantu Anda berdua. Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 27 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*